Kamis, 04 Nov 2021 20:01 WIB

Kronologi Skandal Seks Atlet China yang Seret Eks Wakil Perdana Menteri

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
MELBOURNE, AUSTRALIA - JANUARY 15:  Marta Kostyuk of Ukraine plays a backhand in her first round match against Shuai Peng of China on day one of the 2018 Australian Open at Melbourne Park on January 15, 2018 in Melbourne, Australia.  (Photo by Scott Barbour/Getty Images) Peng Shuai mengaku dipaksa berhubungan seksual oleh eks Wakil PM China. (Foto ilustrasi: Scott Barbour/Getty Images)
Jakarta -

Peng Shuai, 35, mantan juara ganda Wimbledon dan France Open, mengaku dipaksa berhubungan seksual oleh mantan Wakil Perdana Menteri China, Zhang Gaoli. Hal ini terungkap dari unggahan Weibo pribadinya.

Dalam unggahan itu, Peng juga mengungkap kronologi dirinya yang tersiksa secara fisik dan mental karena dipaksa melakukan hubungan seksual.

Peng menuliskan dia pertama kali berhubungan seks dengan Zhang lebih dari 10 tahun yang lalu, ketika Zhang menjabat sebagai bos Partai Komunis Tianjin, sebuah kota pantai di tenggara Beijing. Tetapi Zhang memutuskan kontak setelah dia dipromosikan menjadi Komite Tetap Politbiro di Beijing.

Dia mengatakan Zhang pertama kali memaksanya setelah dia mengunjungi rumahnya untuk bermain tenis.

"Sore itu saya tidak memberikan persetujuan saya dan tidak bisa berhenti menangis. Kamu membawaku ke rumahmu dan memaksaku untuk memiliki hubungan," tulisnya.

Postingan media sosial Peng dengan cepat dihapus oleh lembaga sensor pemerintah. Akun media sosialnya menghilang beberapa jam setelah postingannya.

Namun tangkapan layar dari postingan asli Peng terus beredar luas di sosmed China bahkan ketika ada yang berusaha menghapus semua referensi tentang tuduhannya dalam obrolan grup dan blog.

Cepatnya penghapusan unggahan tersebut juga mencerminkan kepekaan ekstrim dari pernyataannya, yang datang tepat saat para pemimpin Partai Komunis berkumpul di Beijing untuk Pleno Keenam.

"Pengungkapan Peng Shuai telah memungkinkan kita untuk melihat realitas para pemimpin puncak China yang belum pernah terjadi sebelumnya, untuk melihat di balik perangkap kekuasaan yang menyembunyikan penyalahgunaan kekuasaan mereka yang berlebihan, korupsi dan teror mereka," tulis Lü Pin, seorang aktivis feminis dan China. sarjana sekarang berbasis di New York kepada NPR.



Simak Video "Penampakan Penduduk Beijing yang Panic Buying"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)