Senin, 15 Nov 2021 13:17 WIB

BPJS Bayar Penyakit Katastropik Rp 20 T, Kasus Diabetes Naik Terus

Angga Laraspati - detikHealth
Cara membikin kartu BPJS Kesehatan untuk artikel DTutorial, Sabtu (10/3/2018). Foto: Bagus Prihantoro Nugroho/detikcom
Jakarta -

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ali Ghufron Mukti mengatakan di tahun 2020 BPJS Kesehatan telah mengeluarkan Rp 20 triliun untuk membayar pelayanan dan obat-obatan penyakit katastropik, salah satunya diabetes melitus (DM). Penyakit katastropik saat ini masih menjadi perhatian dalam penyelenggaraan Program JKN-KIS.

"Penyakit DM mayoritas diderita oleh peserta JKN-KIS dengan rentang usia 51-65 tahun dengan prevalensi kasus 57% dari total kasus sejak tahun 2017-2020. Kasus diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini perlu menjadi perhatian dan memberikan gambaran pentingnya penguatan promotif preventif dan penerapan pola hidup sehat sejak dini," ungkap Ghufron dalam keterangan tertulis, Senin (15/11/2021).

Saat menjadi panelis pada Peringatan Hari Diabetes Sedunia 2021, Minggu (14/11) kemarin, Ghufron menuturkan untuk memberikan pelayanan kepada peserta, khususnya yang mengidap penyakit diabetes melitus, BPJS Kesehatan telah menjalin kerja sama dengan 22.965 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan 2.567 rumah sakit.

Selain itu, Ghufron mengungkapkan pihaknya mendorong pemilik fasilitas kesehatan, khususnya FKTP untuk memperkuat upaya promotif dan preventif demi menekan angka pertumbuhan penyakit diabetes.

Di samping itu, Ghufron menambahkan BPJS Kesehatan telah berupaya untuk menghadirkan inovasi untuk mengendalikan dan mengelola penyakit diabetes melitus, antara lain dengan menyediakan layanan telekonsultasi dengan dokter FKTP, pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) secara daring, kebijakan iterasi obat bagi peserta JKN-KIS yang memiliki penyakit kronis, antrean online pada Mobile JKN, dan skrining kesehatan.

"Pemeriksaan dini sangat penting dilakukan. Untuk itu, kami terus mendorong FKTP agar giat mengajak peserta untuk menerapkan pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini melalui skrining kesehatan yang bisa diakses melalui aplikasi Mobile JKN sebagai upaya untuk mendeteksi risiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan risiko penyakit tertentu," kata Ghufron.

Dalam pelaksanaannya, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi BPJS Kesehatan dalam mengendalikan penyakit diabetes, seperti keterbatasan tenaga kesehatan dan sarana prasarana FKTP untuk pelayanan pengendalian diabetes dan belum meratanya pemenuhan faskes pemeriksaan penunjang Prolanis.

"Kemudian, Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) dalam Pelayanan DM belum disosialisasikan secara masif kepada seluruh FKTP, sehingga belum dapat diimplementasikan dengan optimal. Namun jika melihat komitmen dan upaya penyempurnaan yang terus dilakukan oleh pemerintah beserta seluruh stakeholder lainnya, kami optimis upaya pengendalian penyakit DM bisa semakin baik ke depannya," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PB Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Ketut Suastika mengatakan tugas pokok dari PB PERKENI adalah untuk mengedukasi para tenaga medis dan membuat sebuah membuat model pendidikan.

Ia yakin apabila edukasi terus dilakukan, kompetensi para tenaga medis di layanan primer maupun sekunder bisa dibangun dan diperbaiki. Dirinya berharap, dengan koordinasi yang dilakukan dengan BPJS Kesehatan hingga Kementerian Kesehatan, pelayanan di fasilitas kesehatan, khususnya pelayanan diabetes dapat terus ditingkatkan.

Di sisi lain, Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Putu Moda Arsana menyampaikan pihaknya sangat mendukung upaya dalam menambah ketersediaan tenaga kesehatan. Namun, ia mengatakan, penambahan tenaga kesehatan juga harus diiringi dengan kualitas yang mumpuni, sehingga nantinya mampu menangani penyakit diabetes secara komprehensif.



Simak Video "Kata Dokter Soal Pemanis Buatan untuk Pengidap Diabetes"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/up)