Senin, 22 Nov 2021 09:00 WIB

Malah Bikin Cemas Para Ilmuwan, Kenapa Delta Plus AY.4.2 Gejalanya Minimalis?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Coronavirus. COVID-19. Copy space. 3D Render Ilustrasi para peneliti malah khawatir soal kabar infeksi subvarian Delta Plus AY.4.2 lebih minim gejala dibanding varian Delta asli. Foto: Getty Images/BlackJack3D
Jakarta -

Subvarian Delta Plus atau AY.4.2, yang diketahui menyebabkan gejala lebih sedikit dibanding varian Delta, diketahui menyebar cepat ke seluruh Inggris. Namun hal tersebut tak sepenuhnya pertanda baik, peneliti malah khawatir peluang penularan semakin besar.

Kasus subvarian tersebut tumbuh 2,8 persen dalam sehari, yang berarti menyebar dengan cepat ke seluruh Inggris. Diperkirakan menyebar lebih cepat 10-15 persen dibanding varian Delta lainnya, subvarian Delta Plus disebut-sebut berpotensi menjadi strain dominan di Inggris hingga beberapa bulan ke depan.

Penelitian juga menyebut, subvarian Delta plus berisiko lebih kecil menyebabkan kasus COVID-19 bergejala dibanding varian Delta sebelumnya.

Para ilmuwan di Imperial College London menemukan bahwa 66,7 persen dari kasus AY.4.2 bergejala, sedangkan pada kasus infeksi varian Delta kasus COVID-19 bergejala sebesar 76,4 persen.

Sepertiga dari kasus COVID-19 akibat infeksi AY.4.2 menunjukkan gejala berupa kehilangan dan perubahan penciuman dan rasa, demam, dan batuk terus-menerus. Jumlahnya mencapai 46,3 persen dari kasus strain Delta asli.

Christl Donnelly, profesor epidemiologi statistik di Imperial College London, menyebut subvarian ini lebih menular daripada varian Delta sebelumnya.

"Ini adalah kasus di mana jika orang menunggu gejala untuk melakukan tes dan mengidentifikasi bahwa mereka terinfeksi. Karena itu kurangi kontak mereka yang tanpa gejala dapat memfasilitasi penularan," katanya, dikutip dari Mirror News UK, Senin (22/11/2021).

"Ini adalah penularan tanpa gejala yang benar-benar dapat membuat perbedaan antara apa yang relatif mudah dikendalikan dan apa yang perlu divaksinasi," sambung Donnelly.

Di samping itu, para peneliti juga memperingatkan bahwa kini masih terlalu dini untuk mengatakan secara pasti risiko gejala dari infeksi subvarian Delta Plus. Mengingat terdapat faktor lain yang mungkin berpengaruh seperti usia pasien yang mungkin masih muda, serta vaksinasi lengkap.

"Kami tidak yakin kenapa AY.4.2 mungkin terkait dengan infeksi virus Corona yang bergejala lebih sedikit. Namun itu mungkin menyebabkan penularan lebih besar karena orang dengan infeksi AY.4.2 cenderung tidak mengetahuinya (karena lebih banyak pasien yang tidak menunjukkan gejala)," katanya.



Simak Video "AY.4.2 Masuk Malaysia, Dokter Tirta: Seharusnya Perpanjang Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)