ADVERTISEMENT

Selasa, 23 Nov 2021 18:39 WIB

Alami Precocious Puberty, Tinggi Badan Anak Ini Tambah 20 cm dalam Setahun

Akbar Malik - detikHealth
Child measuring his height on wall. He is growing up so fast. Precocious puberty (Foto: Getty Images/pinstock)
Jakarta -

Seperti kebanyakan anak pada umumnya, tanda pubertas atau Precocious Puberty bisa terlihat dari pertumbuhan fisik yang semakin tinggi dan membesar. Salah satu indikatornya adalah tinggi badan yang mulai meningkat dengan signifikan.

Meski begitu, pertumbuhan fisik yang drastis dan terlalu cepat bisa dinilai kasus yang unik. Itulah yang dialami oleh Celina, anak dari drg Annisa Rizki Amalia, Sp KGA, yang tinggi badannya tumbuh pesat mencapai 20 cm dalam satu tahun.

Ternyata, di usianya yang akan menginjak 7 tahun, Celina disebut mengalami precocious puberty atau pubertas dini.

"Aku pertama kali tahu Celina pubertas dini pas satu bulan lalu. Itu sebenarnya diagnosis, tapi aku juga sudah mulai ngeh dalam setahun terakhir. Tinggi badan naik mendadak sampai 20 cm, terus berat badan naik pesat dan mulai ada bentuk payudara dan bau badan," kata Annisa kepada HaiBunda, Rabu (17/11/2021).

Saat melihat anaknya mengalami pertumbuhan fisik yang tidak wajar, Annisa sudah menduga anaknya mengalami pubertas dini. Ketika itu ia langsung membawa Celina ke dokter spesialis anak untuk diperiksa.

Ketika diperiksa oleh dokter anak, ternyata dugaan Annisa benar bahwa Celina mengalami pubertas dini.

"Tanda-tanda ini justru aku yang menyampaikan ke dokter waktu kontrol. Waktu diperiksa, itu ternyata benar kecurigaan aku, kemudian sama dokter anak dirujuk ke dokter anak spesialis endokrin," lanjut Annisa.

Sejauh ini, Celina hanya mengalami pertumbuhan fisik. Anak kelas 2 SD itu belum terlihat perkembangan kondisi psikologis dan emosionalnya. Menurut Annisa, emosi Celina masih sama seperti anak-anak seumurannya.

Sampai saat ini, Celina menjalani perawatan medis dengan suntik analog untuk menekan hormon ekstrogen dalam tubuhnya. Suntikan tersebut juga bertujuan untuk menghambat pertumbuhan tulangnya.

"Celina menerima suntik analog untuk mencegah hormonnya ada terus. Untuk tulang, waktu itu usia tulangnya dari pemeriksaan 11 tahun 6 bulan, jadi kemungkinan suntik analog akan berlanjut sebulan sekali sampai usianya sama dengan usia tulang," ungkap Annisa.

"Kalau hormonnya dihambat, otomatis pertumbuhan atau kematangan tulangnya akan dihambat. Tapi nanti katanya setelah suntik analog tiga bulan, akan di-review apakah butuh suntik per bulan atau tiga bulan," sambungnya.

Selain suntik analog, Celina dirujuk menjalani Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk melihat kondisi otaknya. Annisa bercerita, anak yang mengalami pubertas dini cenderung memiliki masalah pada bagian otak penghasil hormon.

"Kita juga dirujuk untuk MRI karena pingin dilihat ada masalah enggak di otaknya, karena hormon ini kan diproduksi dari kepala. Biasanya kalau anak laki-laki sering ada masalah di otaknya, tapi kalau anak perempuan jarang ada masalah. Tapi pemeriksaan harus tetap dilakukan dan kita lagi mengumpulkan mental dan biaya tentunya," katanya.

Annisa mengingatkan para orang tua untuk rutin membawa anaknya ke dokter, baik saat melihat tanda pubertas ataupun tidak. Ia mengatakan bahwa apabila terjadi pubertas dini, hal tersebut bisa memengaruhi perkembangan psikologi anak ke depannya.

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA



Simak Video "Menkes Terawan Minta Anak-anak Tidak Stres di Masa Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT