Rabu, 24 Nov 2021 07:30 WIB

Round Up

Mengenal FOMO, Fenomena di Balik Tren 'Add Yours' di IG yang Berujung Penipuan

Ayunda Septiani - detikHealth
MENLO PARK, CA - JUNE 20:  An attendee takes a photo of the instagram logo during a press event at Facebook headquarters on June 20, 2013 in Menlo Park, California. Facebook announced that its photo-sharing subsidiary Instagram will now allow users to take and share video.  (Photo by Justin Sullivan/Getty Images) Ilustrasi Instagram (Foto: GettyImages)
Jakarta -

Belum lama ini ramai di media sosial Twitter curhat seorang wanita yang mengaku temannya menjadi korban penipuan karena ikut-ikutan tren challenge 'Add Yours' di Instagram.

Disebutkan bahwa temannya tertipu sekitar Rp 35 juta karena ia berpikir bahwa itu kakak dari ibunya. Singkat cerita, temannya tersebut langsung percaya dan mentransfer sejumlah uang.

Ramainya penggunaan 'Add Yours' ini tidak lepas dari kemungkinan warganet yang latah dan tak ingin merasa ketinggalan tren. Fenomena ini disebut FOMO (fear of missing out).

Apa sih yang dimaksud dengan FOMO?

Fomo merupakan fenomena di mana seseorang merasa takut ketinggalan dengan sesuatu yang dimiliki orang lain. Seperti, takut tidak paham soal apa yang tengah terjadi, dikucilkan, atau iri terhadap hal yang dialami orang lain.

"Namanya 'Fear of Missing Out', bisa saja disertai rasa takut mereka nggak mengalami. Kok orang lain kelihatannya bisa having fun, bisa menjalani hidupnya dengan lebih happy? Kalau aku nggak mengalami, nggak bisa having fun dong?" kata psikolog klinis & Co-Founder Ohana Space, Kantiana Taslim.

Apa sih penyebab FOMO?

Selain itu, Kantina menjelaskan terdapat sejumlah kemungkinan penyebab di balik fenomena tren 'Add Yours'. Yang paling mendasar adalah minimnya self esteem atau kepercayaan diri. Alhasil, seseorang menjadi terombang-ambing mengikuti apa yang orang lain lakukan.

"Kalau self esteem-nya nggak ada, pastinya jadi ikut-ikutan orang lain karena dia sendiri nggak tahu dia sukanya apa, maunya apa. Takut kalau nggak kayak begitu (mengikuti yang orang lain lakukan), nggak sesuai sama yang orang lain lakukan, harapkan," jelas Kantiana.



Simak Video "Memahami Self Reward dan Self Love bagi Kesehatan Mental "
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/up)