Rabu, 24 Nov 2021 07:50 WIB

Viral 'Gaji Gede Mental Health Down', Kaya dan Bahagia Memangnya Nggak Bisa?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Tangkapan layar dari akun Tiktok Kementerian Ketenagakerjaan (@kemnaker) Foto: Tangkapan layar dari akun Tiktok Kementerian Ketenagakerjaan (@kemnaker)
Jakarta -

Sebuah video Tiktok dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) viral di media sosial. Lantaran menyandingkan 'gaji gede mental health down' dengan 'gaji kecil mental health baik', unggah tersebut menuai kontroversi di linimasa Twitter.

"Hidup itu adalah pilihan. Jangan lupa mental kita juga harus tetap dijaga ya Rekanaker. Gaji besar pasti tanggung jawab juga akan lebih besar," tertulis dalam keterangan video tersebut, dikutip detikcom, Selasa (23/11/2021).

Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi, founder dari pusat konsultasi Anastasia and Associate, menerangkan besaran gaji memang bisa memengaruhi kondisi mental seorang pekerja.

Simpelnya semakin besar gaji, semakin besar kemungkinan kondisi mental baik. Atau jika mengacu pada konten Tiktok Kemnaker tersebut, semakin besar gaji, semakin besar beban kerja dan semakin besar risiko kondisi mental terganggu.

"Kalau ngomongin kesehatan mental yang kaitannya dengan pekerjaan, selain salary (gaji) ada juga kecocokan diri dengan pekerjaan, manajemen waktu dengan load kerja. Kemudian sistem kerja, manajemen itu juga berpengaruh banyak terhadap bagaimana karyawan institusi stres atau tidak bingung, tidak dilempar sana-sini atau tidak, itu juga berpengaruh," terangnya pada detikcom, Senin (22/11/2021).

"Sistem manajemen perusahaan dan kondisi pertemanan, politik, dan sebagainya. Politik itu nggak hanya sebatas siapa yang mau dapat promosi atau saing-saingan kompetensi, nggak juga. Kita melihat banyak kasus pelecehan seksual, bullying, itu juga berpengaruh erat terhadap kesehatan mental," sambung Sari.

Ia menambahkan, pengaruh gaji dan tempat kerja terhadap setiap orang mungkin berbeda sehingga tak bisa dipukul rata. Sebab, kondisi kesehatan mental dipengaruhi oleh banyak faktor selain ekonomi. Mulai dari faktor genetik dan klinis.

"Kalau kita ngomongin kepribadian, karakter, toleransi, stres itu ada kaitannya dengan otak. Kemudian faktor psikososial, bagaimana dia tumbuh, parenting, kemudian kondisi ekonomi. Kemudian kalau yang kaitannya dengan pekerjaan, tentu ada latar belakang pendidikan itu juga berpengaruh," pungkas Sari.

Lihat juga video 'Berawal Gaji Rp.75 Ribu, Alumni PIP Kini Miliki Berbagai Bisnis':

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)