Kamis, 02 Des 2021 13:45 WIB

Yakini Omicron Sudah Masuk RI, Pakar Singgung Risiko Penularan di Reuni 212

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sejumlah perempuan yang tergabung massa aksi Reuni 212 melakukan orasi di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (2/12). Mereka tetap melakukan aksi padahal tidak mendapatkan izin kegiatan. Reuni 212 dan risiko varian Omicron. (Foto ilustrasi: Pradita Utama)
Jakarta -

Massa reuni 212 berkumpul, berdesakan di jalanan. Dalam pantauan detikNews Kamis (2/12/2021), pukul 09.43 WIB, mereka memenuhi Jl Wahid Hasyim hingga jalan kendaraan tidak bisa dilewati sama sekali.

Beberapa anggota massa aksi reuni 212 bahkan menyebut tidak akan membubarkan diri jika tidak ada arahan pulang. Meski tren kasus Corona di Indonesia tengah menurun drastis, pemerintah tengah mewaspadai kemunculan varian Omicron.

Bahkan, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menilai besar kemungkinan varian Omicron sudah terdeteksi di Indonesia. Artinya, kerumunan massa reuni 212 bukan tidak mungkin memicu penularan semakin luas.

"Bagaimanapun kombinasi antara kerumunan, keramaian, dan mobilitas yang tinggi, interaksi yang tinggi, dengan adanya besar kemungkinan varian Omicron sudah ada di Indonesia, ini hanya masalah waktu saja," beber Dicky kepada detikcom, Kamis (2/12/2021).

Dampak dari kemungkinan munculnya varian baru Corona dan kerumunan tidak akan langsung terlihat. Dicky menilai efeknya baru bisa muncul beberapa pekan ke depan.

"Ini tentu akhirnya membuat potensi makin cepat besirkulasi, berpotensi besar dengan adanya penularan menjadi besar, sehingga tentu tidak serta merta secara langsung, karena baru akan ketahuan 2 atau 3 minggu setelahnya," lanjut dia.

Meski begitu, Dicky mengakui, jika dibandingkan tahun lalu, risiko penularan atau transmisi COVID-19 tidak sebesar 2020. Hal ini dikarenakan tren COVID-19 konsisten menurun. Namun, ia tetap mengingatkan masyarakat meningkatkan rasa waspada.

"Karena saat ini kita dalam kondisi landai dan sebagian sudah divaksinasi, tapi iya itu tidak menjadi jaminan kan. Mencegah kan lebih baik, karena tetap risiko itu ada, kita ini masih ada di level community transmission," pungkas dia.

Simak video 'Jika Omicron Tak Masuk RI, Pemerintah Tak Tambah Peraturan PPKM saat Nataru':

[Gambas:Video 20detik]




(naf/up)