ADVERTISEMENT

Kamis, 02 Des 2021 15:00 WIB

Eks Petinggi WHO Sebut Tak Mustahil Omicron Sudah Masuk RI, Ini Cirinya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan agar harga tes PCR diturunkan. Jokowi meminta agar biaya tes PCR di kisaran Rp 450-550 ribu. Eks petinggi WHO ungkap ciri-ciri varian Omicron sudah ditemukan di Indonesia. (Foto: Antara Foto)
Jakarta -

Eks petinggi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Profesor Tjandra Yoga Aditama mengungkap tanda varian Omicron bisa jadi sudah masuk Indonesia. Disebutnya, ciri COVID-19 varian Omicron salah satunya berdampak pada deteksi tes PCR.

"Mutasi spike protein di posisi 69-70 pada Omicron menyebabkan terjadinya fenomena 'S gene target failure (SGTF)' di mana gen S tidak akan terdeteksi dengan PCR lagi, hal ini disebut juga drop out gen S," beber Prof Tjandra.

Namun, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu juga menjelaskan virus masih bisa terdeteksi lewat sejumlah gen lain. Karenanya, secara umum tes PCR masih efektif mendeteksi infeksi yang disebabkan varian Omicron.

"Tidak terdeteksinya gen S pada pemeriksaan PCR dapat dijadikan indikasi awal untuk kemungkinan yang diperiksa adalah varian Omicron, yang tentu perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan whole genome sequencing untuk memastikannya," sambung dia, dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (2/11/2021).

Menurut dia, penemuan SGTF bisa menjadi skrining awal adanya varian Omicron yang menyebar di sejumlah wilayah. Terlebih, whole genome sequencing di Indonesia masih amat terbatas.

"Kalau di suatu daerah ditemukan peningkatan sampel laboratorium yang menunjukkan "S gene target failures (SGTF)" maka ini mungkin dapat menjadi suatu indikasi sudah beredarnya varian Omicron," tutur dia.

Seperti diketahui, kemampuan whole genome sequencing Indonesia masih tertinggal jauh dengan sejumlah negara. Jika dibandingkan dengan Afrika yang Selatan yang dengan populasi sekitar 60 juta, selisihnya mencapai lebih dari 10 ribu.

Berdasarkan data GISAID hingga 1 Desember 2021, Afrika Selatan memasukkan 23.917 sekuens, sementara Indonesia 9.265 sekuens. Sementara India berhasil menganalisis 80 ribu sampel.

"Penduduk kita kira-kira adalah seperempat penduduk India, jadi kalau India sekarang sudah memeriksa lebih 80 ribu sampel maka seyogyanya kita harusnya dapat juga sudah memeriksa sekitar 20 ribu sampel," pungkas Prof Tjandra menekankan setiap daerah untuk mulai melaporkan catatan SGTF.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT