ADVERTISEMENT

Senin, 06 Des 2021 21:44 WIB

Klinik Mata di Rusia Gugat WHO Gara-gara Nama Varian Omicron, Kenapa?

Ayunda Septiani - detikHealth
Corona virus under magnifying glass. Observation made by virologists in the laboratory with microscope.  Red heart shaped coronavirus being mutated through genome modification. 3D rendering. Foto: Getty Images/iStockphoto/Stockcrafter
Jakarta -

Seorang pengusaha di Siberia mengajukan gugatan terhadap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) cabang Rusia. Hal ini terjadi karena khawatir penamaan varian baru COVID-19 Omicron akan merusak citra bisnisnya.

CEO klinik oftalmologi Jaringan Omicron, Alexander Padar, mengajukan klaim ke Pengadilan Arbitrase Moskwa pada 30 November.

Dikutip dari laman News NPR, ia menegaskan penggunaan kata Omicron yang merujuk kepada varian baru COVID-19 serta infeksi lainnya harus dimasukkan dalam daftar hitam.

"Nama kami adalah merek dagang terdaftar, terutama di bidang kedokteran dan perawatan kesehatan, karena ini adalah layanan inti kami. Beberapa varian virus corona telah merusak reputasi kami," papar Padar.

Ia pun mencatat bahwa stigma buruk terkait omicron ini bisa saja dikaitkan dengan nama kliniknya.

"Coba pikirkan, jika ada teman atau kerabat meninggal karena Omicron. Anda tidak mungkin pergi ke klinik dengan nama yang sama," kata Padar.

Padar menekankan telah menginvestasikan sejumlah besar uang untuk mengiklankan kliniknya. Namun kini, dengan munculnya varian baru tersebut, orang cenderung mengenal omicron sebagai varian penyakit bukan klinik kesehatan.

Padar khawatir akan mengalami kerugian finansial yang besar karena sebutan varian baru ini.

Varian COVID-19 hingga saat ini diberi nama WHO berdasarkan huruf alfabet Yunani karena netralitas geografis dan politiknya. Varian Omicron awalnya berkode B.1.1.529 yang dilaporkan oleh Afrika Selatan kepada WHO dan kemudian diklasifikasikan sebagai variant of concern (VoC).

Hingga saat ini, setidaknya 45 negara dan wilayah telah mencatat varian Omicron. Ini menandakan bahwa pertempuran dengan pandemi belum berakhir.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT