Mengenal Demensia: Pengertian, Gejala, dan 12 Faktor Risikonya

ADVERTISEMENT

Mengenal Demensia: Pengertian, Gejala, dan 12 Faktor Risikonya

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
Selasa, 07 Des 2021 11:14 WIB
Dahulu mereka memiliki kehidupan yang berbeda-beda. Kini harus bernasib sama dan menjalani sisa hidup usia senja di Panti Werdha. Beginilah potretnya.
Demensia adalah penyakit yang menyerang sistem saraf pusat (Ilustrasi: Andhika Prasetya)
Jakarta -

Demensia adalah penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Kondisi ini bisa berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari.

Dikutip dari alzi.org, Selasa (7/12/2021) jenis demensia sendiri beragam, namun yang paling sering ditemui yakni penyakit Alzheimer dan demensia vaskular. Alzheimer merupakan demensia yang berhubungan dengan perubahan genetik dan protein di otak. Sedangkan demensia vaskular, merupakan demensia akibat gangguan di pembuluh darah otak.

Perlu diingat, demensia adalah kondisi yang berbeda dengan pikun. Pikun sendiri merupakan perubahan kemampuan berpikir dan mengingat yang dialami seiring pertambahan usia.

Lantas apa penyebab demensia?

Sselain dua faktor yang telah disebutkan di atas, sangat memungkinkan bahwa ada beberapa faktor kombinasi lain seperti:

1. Usia

Usia merupakan faktor risiko terbesar pengidap demensia. Demensia mempengaruhi satu dari 14 orang di atas usia 65 tahun dan satu dari enam di atas usia 80 tahun.

2. Pembawaan genetik

Ada beberapa keluarga yang mempunyai riwayat penyakit demensia dan dibawa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam kasus genetik, kondisi demensia bisa muncul relatif lebih awal.

3. Faktor Lain

Faktor lingkungan dapat berkontribusi pada timbulnya penyakit demensia. Misal, orang dengan cedera kepala berat atau leher (whiplash injuries) memiliki risiko mengalami perkembangan demensia atau petinju yang menerima pukulan terus menerus di kepala memiliki risiko serupa.

Penelitian juga menunjukkan, orang yang merokok, memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi atau diabetes memiliki peningkatan risiko perkembangan penyakit demensia.

Gejala demensia

Gejala utama demensia biasanya penurunan memori dan perubahan cara berpikir. Meski demikian, sebenarnya, gejala demensia beragam tergantung penyebabnya.

Berikut beberapa gejala dan tanda yang umum terjadi:

1. Perubahan fungsi nalar

Hilangnya daya ingat, kesulitan berkomunikasi atau menemukan kata-kata, kesulitan melakukan tugas yang kompleks, kesulitan dalam perencanaan dan pengaturan, kesulitan dalam fungsi motorik dan koordinasi, serta masalah disorientasi seperti mudah tersesat.

2. Perubahan psikologis

Perubahan kepribadian, ketidakmampuan menentukan sebab-akibat, ketidaksesuaian perilaku, paranoid, gelisah, dan halusinasi.

Bagaimana pengobatan pengidap demensia?

Sebagian besar tipe demensia tidak dapat disembuhkan, namun biasanya dokter akan membantu pengidapnya dalam mengelola gejala-gejala untuk memperlambat dan memperkecil perkembangan gejala.

Seperti halnya dengan memberikan obat-obatan untuk mengatasi gangguan tidur dan terapi yang menolong penderita beradaptasi.

Beberapa terapi yang dapat dilakukan dengan non obat seperti:

  • Modifikasi lingkungan
  • Modifikasi respons penderita
  • Modifikasi tugas

Selain terapi di atas, juga bisa melakukan terapi musik, terapi menggunakan hewan peliharaan, aromaterapi, dan terapi pijatan.

Selain itu, bisa juga menggunakan terapi alternatif seperti mengkonsumsi suplemen vitamin E, asam lemak omega-3, hingga Ginkgo biloba.

12 Faktor risiko penyebab demensia

Sebuah studi pada 2020 dalam jurnal The Lancet, ada sekitar 40 persen kasus demensia di dunia dipengaruhi oleh 12 faktor risiko. Tim peneliti mengatakan, faktor risiko ini dapat dimodifikasi dan diperbaiki.

"Keseluruhan 12 faktor risiko yang bisa diubah ini bertanggung jawab pada sekitar 40 persen (pasien) demensia di dunia, yang secara teoritis dapat dicegah atau ditunda," kata tim peneliti, dikutip dari laman PMJ News, Selasa (7/12/2021).

Berikut 12 faktor yang bisa menjadi perhatian guna menghindari resiko terkena demensia:

  1. Kurang pendidikan
  2. Mengidap hipertensi
  3. Memiliki gangguan pendengaran
  4. Memiliki kebiasaan merokok
  5. Mengalami obesitas
  6. Mengalami depresi
  7. Fisik tidak aktif
  8. Mengidap diabetes
  9. Jarang berkontak sosial
  10. Konsumsi alkohol berlebih
  11. Mengalami cedera otak
  12. Polusi udara

Berdasarkan hasil penelitian, 12 faktor tersebut lebih tinggi terjadi di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Sehingga menyebabkan kasus demensia lebih banyak terjadi.

Meski demikian, menurut tim peneliti, ada kegiatan yang bisa menekan risiko terjadinya demensia seperti membaca, mengerjakan puzzle atau teka-teki silang, atau mulai belajar bahasa asing.



Simak Video "Pola Hidup Pandemi Ganggu Kecerdasan dan Daya Ingat"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT