Kamis, 16 Des 2021 09:15 WIB

Varian Omicron Bakal Mendominasi Eropa Awal 2022, Varian Delta 'Pensiun'?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Virus Corona kembali membayangi sejumlah negara di Eropa. Para tenaga kesehatan di Rumania hingga Ukraina pun terus berjibaku merawat pasien COVID-19. Ilustrasi varian Omicron diprediksi bakal mendominasi Eropa pada awal 2022, mengalahkan varian Delta. Foto: AP Photo
Jakarta -

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) menyebut varian Omicron disebut berisiko tinggi bakal mendominasi Eropa di dua bulan pertama 2022, 'mengalahkan' varian Delta. Dikhawatirkan, kondisi tersebut bakal meningkatkan jumlah rawat inap dan kasus kematian akibat COVID-19.

ECDC mengakui, belum ada cukup data untuk menilai tingkat keparahan penyakit akibat infeksi varian Omicron. Namun walaupun tingkat keparahan COVID-19 yang ditimbulkan varian Omicron lebih rendah daripada varian Delta, tingginya kemampuan penularan varian Omicron tetap dikhawatirkan.

"Oleh karena itu dianggap sangat mungkin bahwa Omicron Variant of Concern (VoC) akan menyebabkan tambahan rawat inap dan kematian, selain yang sudah diperkirakan sebelumnya yang hanya memperhitungkan Delta VOC," kata ECDC, dikutip dari Reuters, Kamis (16/12/2021).

Menurut ECDC, tanpa tindakan lebih lanjut berupa percepatan vaskinasi COVID-19 dan pembatasan kontak sosial, penyebaran varian Omicron bakal menekan sistem kesehatan.

Komisioner Kesehatan Eropa, Stella Kyriakides, mengatakan negara-negara Uni Eropa harus segera merencanakan peningkatan kapasitas perawatan kesehatan.

"Sebagai orang Eropa yang kami persiapkan untuk perayaan akhir tahun, kami tidak bisa mengabaikan angin," katanya dalam pernyataan tertulis.

Bergantung pada booster

ECDC menyebut, suntikan booster vaksin COVID-19 akan meningkatkan perlindungan dari varian Omicron. Besar risiko varian Omicron bakal menyebabkan gelombang besar selama beberapa bulan mendatang. Namun Kyriakides optimistis, booster akan menjadi 'pemecah gelombang'.

Lebih dari 66 persen warga Eropa telah menerima vaksinasi COVID-19. Namun Kyriakides tetap khawatir lantaran masih terdapat sejumlah negara Eropa yang tertinggal dengan cakupan vaksinasi masih di bawah 50 persen. Misalnya Bulgaria, Rumania, dan Slovakia.



Simak Video "Kemenkes RI Tegaskan Varian Deltacron Belum Terdeteksi di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)