Selasa, 21 Des 2021 16:30 WIB

Asosiasi Medis Sayangkan Banyak Warga RI Pilih Berobat di Luar Negeri

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Doctor using a digital tablet. Technology and medicine concept Foto: Getty Images/iStockphoto/AlexRaths
Jakarta -

Pemerintah masih terus menggencarkan upaya pengembangan wisata kesehatan atau medical tourism. Hal ini mengingat masih banyak warga Indonesia yang lebih memilih berobat ke luar negeri.

"Kenapa masyarakat Indonesia ke luar negeri, utamanya karena kurang percaya. Memang banyak cerita yang lalu terkait kurangnya pelayanan yang ditawarkan RS di Indonesia. Tapi kini kita sudah berbenah dan sudah meningkatkan layanan, jadi sudah bagus. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk ke luar negeri sebenarnya," ujar Ketua Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AWMI), dr Taufik Jamaan SpOG dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Selasa (21/12/2021).

Ia juga mengungkapkan jika omset wisata kesehatan yang mencapai sebesar Rp 150 triliun hingga kini masih dikuasai oleh Singapura, Malaysia, dan juga Thailand.

"Orang Indonesia itu devisa Rp 100 sampai Rp 150 triliun per tahun ke luar negeri. Jadi, bagaimana menggaet kembali devisa itu sendiri. Potensi kita yang selama ini terkendala jadi tuan rumah di negeri sendiri," kata dr Taufik.

Demi meningkatkan minat warga untuk berobat di negeri sendiri, program Indonesia Health Tourism (IHT) diselenggarakan untuk mengkolaborasikan pelaku Industri Pariwisata dengan Industri Kesehatan sebagai bagian dari pengembangan industri wisata medis di Indonesia.

Tujuannya tidak hanya berfokus pada stimulus ekonomi sektor pariwisata dan kesehatan, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan kompetensi dokter dan rumah sakit di seluruh Indonesia.

"Proses kerjasama dengan industri pariwisata perlu dijalankan agar kami dapat mengembangkan wisata medis di Indonesia dengan biaya efektif bagi pasien," tambah dr Taufik.



Simak Video "IDI Akan Teliti Referensi Ilmiah untuk Riset Ganja Medis"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)