5 Fakta di Balik Geger Pria Ngaku Jadi Joki Vaksin COVID-19 Disuntik 17 Kali

ADVERTISEMENT

5 Fakta di Balik Geger Pria Ngaku Jadi Joki Vaksin COVID-19 Disuntik 17 Kali

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 22 Des 2021 18:00 WIB
Abdul Rahim, pria asal Pinrang, Sulsel mengaku jadi joki vaksin COVID-19 dan telah disuntik vaksin sebanyak 16 kali-dibayar Rp 800 ribu. (dok. Istimewa)
Foto: Abdul Rahim, pria asal Pinrang, Sulsel mengaku jadi joki vaksin COVID-19 dan telah disuntik vaksin sebanyak 16 kali-dibayar Rp 800 ribu. (dok. Istimewa)
Jakarta -

Heboh seorang warga Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, bernama Abdul Rahim mengaku pernah disuntik vaksin COVID-19 sebanyak 16 kali. Dari aksinya tersebut, ia disebut-sebut bisa meraup sejumlah uang.

Namun, setelah diperiksa polisi Abdul Rahim mengaku sudah disuntik sebanyak 17 kali. Sebanyak 15 kali dosis pertama dan 2 kali dosis kedua.

"Awalnya saat dipanggil saya bilang 16, ternyata pas saya ingat lagi, ada yang lupa ternyata sudah 17 kali, 15 kali suntik dosis pertama dan 2 kali suntik dosis kedua," kata Rahim di Polres Pinrang, Selasa (21/12).

Berikut detikcom rangkum beberapa faktanya yang wajib diketahui.

1. Dibayar ratusan ribu rupiah

Dari aksinya tersebut, joki vaksinasi ini bisa mendapatkan uang berkisar antara 100 hingga 800 ribu rupiah. Namun, Kapolsek Watang Sawitto AKP Muhammad Yusuf Badu mengatakan yang bersangkutan sudah diamankan.

"Sudah diserahkan ke (Satgas COVID). Iya Satgas yang ambil (amankan) tadi malam karena perlu diselidiki memang," beber dia, Selasa (21/12/2021).

2. Efek yang muncul setelah disuntik

Selama itu, ia menerima dua jenis vaksin COVID-19, yaitu Sinovac dan AstraZeneca. Usai disuntik, ia mengaku merasa lemas dan selalu minum air kelapa sebelum serta sesudah vaksin.

"Tapi tidurnya enak, sebelum dan sesudah divaksin minum air kelapa, dua minggu terakhir ini pernah 3 kali sehari," beber Abdul.

3. Tanggapan Kemenkes RI

Pihak Kementerian Kesehatan RI juga ikut buka suara dan menelusuri lebih lanjut kebenaran dari kasus joki vaksinasi ini. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) khawatir jika yang bersangkutan hanya mengaku-ngaku saja.

"Tentunya harus didalami dulu apakah betul atau tidak, bisa jadi hanya pengakuan saja," tutur dr Nadia kepada detikcom sembari menegaskan terus berkoordinasi dengan pihak Dinkes Sulsel.

4. Bagaimana risikonya jika divaksinasi sebanyak itu?

Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Profesor Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K), mengaku belum pernah membaca studi terkait respons atau efek samping yang muncul jika menerima suntikan vaksin COVID-19 lebih dari dosis yang ditentukan.

Di sisi lain, Prof Sri juga enggan berkomentar banyak soal kasus ini. Jika kasus ini benar adanya, ia mendorong agar bisa segera diselesaikan oleh pihak kepolisian.

"Saya belum pernah membaca literatur ada masalah seperti ini. Nggak perlu dibahas, lebih penting ini kriminal," kata dia, saat dihubungi detikcom secara terpisah.

5. Sistem verifikasi dinilai belum sempurna

Dokter yang juga influencer, dr Tirta Mandira Hudhi alias dr Tirta ikut menanggapi kasus joki vaksinasi ini. Ia pun mengunggahnya melalui akun Instagram pribadinya.

"Mantep, wis ngluwihi thanos bosku, dan ajukan rekor dunia "orang yg mendapat vaksin covid terbanyak di dunia," jelas dr Tirta, dalam postingan Instagram miliknya, setelah dikonfirmasi detikcom, Rabu (22/21/21).

"Apa efeknya di vaksin 16x? Tergantung kondisi badan masing2 orang. Jika kuat, ya ga ada efeknya, tapi kalo ga kuat, bisa terjadi reaksi alergi yg parah," lanjutnya.

Selain itu, dr Tirta mengatakan kasus ini menjadi tanda bahwa sistem verifikasi untuk vaksinasi di Indonesia masih belum sempurna.

"Joki vaksin, ini pertanda verifikasi data kita masih ga bagus. Instruksi dari hulu, ga dilanjutkan dengan bagus sampai hilir," pungkas dr Tirta.



Simak Video "Masyarakat Lansia Cipete Antusias Sambut Vaksinasi Booster Kedua"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT