ADVERTISEMENT

Rabu, 29 Des 2021 12:03 WIB

Alasan WHO Sebut Omicron Tetap Berisiko Tinggi Meski Angka Kematian Rendah

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Tedros Adhanom Ghebreyesus Foto: Tedros Adhanom Ghebreyesus (FABRICE COFFRINI / POOL / AFP)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap peningkatan kasus dunia tercatat signifikan sejak kemunculan varian Omicron. Naik 11 persen dari pekan lalu.

Kabar baiknya, angka kematian karena COVID-19 malah turun empat persen dibandingkan minggu sebelumnya. Namun, hal ini tidak menandakan risiko varian Omicron menurun.

"Risiko keseluruhan terkait varian baru yang menjadi perhatian Omicron tetap sangat tinggi," kata badan kesehatan PBB, mengutip peringatan WHO.

Pasalnya, peningkatan kasus varian Omicron terjadi sangat cepat dalam dua hingga tiga hari di sejumlah negara. Paling terlihat di Inggris dan Amerika Serikat, penambahan kasus bisa menyentuh angka 100 ribu per hari.

"Tingkat pertumbuhan yang cepat kemungkinan merupakan kombinasi dari penghindaran kekebalan dan peningkatan transmisibilitas varian Omicron secara intrinsik," beber WHO, dikutip dari Channel News Asia.

Merujuk pada data awal Inggris, Afrika Selatan, dan Denmark, peningkatan signifikan varian Omicron tak menyebabkan risiko rawat inap lebih tinggi dibandingkan Delta. Namun, sekali lagi data lebih lanjut masih dibutuhkan untuk melihat apakah varian Omicron bisa memicu penggunaan peningkatan oksigen, ventilasi mekanis, hingga risiko naiknya angka kematian.

Simak Video 'Update dari WHO soal Varian Omicron':

[Gambas:Video 20detik]



(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT