Jumat, 31 Des 2021 05:51 WIB

Round Up

Penyebab Kematian Siswa SD di Jombang Gelap, Disimpulkan Tak Terkait Vaksin

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Petugas kesehatan memberikan vaksin Sinovac dosis 1 kepada siswa-siswi di kawasan SDN Sukapura 04 Pagi, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (14/12). Ilustrasi vaksin anak (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Siswa SD di Jombang, Jawa Timur meninggal kurang dari 24 jam usai mendapat vaksin COVID-19 Pfizer. Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menyimpulkan tak terkait vaksin, tetapi tidak ada cukup bukti untuk mengungkap penyebab sebenarnya.

Hal ini disampaikan Ketua Komnas KIPI Prof Dr dr Hinky Hindra Irawan Satari, Sp.A (K), M.TropPaed saat dihubungi detikcom. Berdasarkan hasil investigasi sejauh ini, disimpulkan kematian siswa berusia 12 tahun ini tidak terkait vaksin.

"Namun, untuk mengetahui pasti penyebab kematian kita tidak cukup bukti," kata Prof Hinky kepada detikcom, Rabu (30/12/2021).

Menurut Prof Hinky, anak tersebut mengalami pusing setelah divaksinasi. Oleh ayahnya, diajak ke sawah dan bermain game, pulang lagi ketika magrib. Keesokan subuh, mengalami muntah dan diare, lalu mengalami penurunan kesadaran. Siswa tersebut meninggal setelah dibawa ke Puskesmas.

"Nggak ada data lab, CT scan nggak ada, pemeriksaan lain nggak ada. Demam, penurunan kesadaran, muntah, diare, bisa radang otak. Penurunan kesadaran, muntah, bisa karena pecahnya pembuluh darah tapi itu nggak bisa kita buktikan," kata Prof Hinky.

Tak terkait obat khitan

Dikabarkan, siswa tersebut sempat menunda vaksinasi karena sedang khitan. Jadwal vaksin ditunda karena luka khitan belum kering, dan pada jadwal yang telah disesuaikan ia divaksinasi bersama 18 anak yang lain.

"Nggak ada kaitan antara kematian dia dengan obat khitan," tegas Prof Hinky.

Prof Hinky mengingatkan, kemungkinan KIPI muncul juga bisa dialami anak-anak usai vaksinasi COVID-19. Umumnya berupa demam, sakit kepala, pusing, mual dan muntah lemas. Namun gejala tersebut mereda dalam 1-2 hari.

"(Indikasi bahaya) Dilihat dari seberapa intens gejalanya. Kalau sakit kepalanya terlihat menderita, diberi obat tidak kunjung reda, dimuntahkan lagi. Nyeri otot nyeri sendi sudah diobatin tidak kunjung membaik, saatnya untuk berobat," pesan Prof Hinky.



Simak Video "Tawaran Vaksin Covid-19 dari Korsel Masih Dicuekin Korut"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)