ADVERTISEMENT

Minggu, 02 Jan 2022 19:01 WIB

Heboh Fenomena Orang Rawat Spirit Doll, Sampai Mana Sih Batas Wajarnya?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
close up girl toy doll face flay lay Fenomena spirit doll. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Михаил Руденко)
Jakarta -

Fenomena spirit doll atau boneka arwah semakin ramai dibahas masyarakat usai beberapa selebriti mengaku merawatnya seperti anaknya sendiri. Mereka juga mulai memamerkannya ke publik melalui media sosial.

Tetapi, tak jarang sebagian masyarakat melihat seseorang yang merawat spirit doll ini memiliki gangguan jiwa. Sebab, para pemilih spirit doll memperlakukan boneka mereka layaknya anak atau bayi manusia.

Lalu, sejauh mana orang yang memiliki spirit doll ini disebut sudah kelewatan?

"Kalau dia memberikan sesuatu atau dia misalnya mau merawatnya, tetapi dia yakin bahwa memang itu hanya boneka saja ya tidak kita sebut sebagai delusi atau waham," kata psikiater dari Klinik Psikosomatik RS Omni Alam Sutera, dr Andri, SpKJ, FAPM, saat dihubungi detikcom, Minggu (2/1/2022).

Dikutip dari laman Very Well Mind, delusi atau waham adalah keyakinan yang tetap dan salah yang bertentangan dengan kenyataan. Ini sering menjadi bagian dari gangguan psikotik.

Namun, dr Andri mengatakan jika orang tersebut meyakini spirit doll yang dimilikinya punya kekuatan atau bisa memberikan kekuatan atau melakukan apapun di luar nalar manusia, itu bisa disebut ide-ide mirip waham. Orang yang mengalami kondisi seperti ini perlu diperiksakan ke dokter kejiwaan.

"Misalnya bisa melakukan apapun terhadap keadaan atau keinginan dia dan itu tidak sebenarnya terjadi, maka itu bisa saja disebut sebagai ide-ide mirip waham dan perlu diperiksakan ke dokter jiwa. Untuk mengetahui apakah memang benar sudah masuk ke arah gangguan kejiwaan atau bukan," beber dr Andri.

Meski begitu, dr Andri menegaskan bahwa tidak bisa serta merta memberikan penilaian bahwa orang yang merawat spirit doll itu memiliki gangguan kejiwaan. Butuh pemeriksaan yang detail dan sangat hati-hati untuk mengetahuinya.

dr Andri juga mengingatkan agar tidak sembarangan menggunakan istilah halu untuk menilai kondisi seperti ini. Sebab, istilah halusinasi dan istilah halu yang sering digunakan masyarakat di media sosial itu berbeda.

"Jadi, kita memang tidak serta merta memberikan penilaian seperti itu kepada orang yang tidak kita periksa, jadi memang harus hati-hati. Apalagi masalah penggunaan istilah halu yang dikaitkan. Makanya, seringkali saya sebutkan juga kalau istilah halusinasi itu berbeda dengan istilah halu yang dikaitkan dengan teman-teman yang suka ngomong di media sosial seperti itu," jelasnya.



Simak Video "Ini Penampakan Koleksi Boneka Arwah Furi Harun"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT