ADVERTISEMENT

Senin, 03 Jan 2022 17:00 WIB

Pasien Omicron Surabaya Keluhkan Gejala di Tenggorokan, Inikah Penyebabnya?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Hospital COVID
Healthcare workers during an intubation procedure to a COVID patient Pasien Omicron di Surabaya keluhkan gejala COVID-19, seperti lendir di tenggorokan. (Foto ilustrasi: Getty Images/Tempura)
Jakarta -

Dua pasien Omicron transmisi lokal di Surabaya mengeluhkan gejala COVID-19 di tenggorokan. Menurut penuturan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur dr Erwin Astha Triyonno pasien berinisial TYC tersebut mengeluhkan gejala di tenggorokan sebelum akhirnya diswab hingga terkonfirmasi positif COVID-19 Omicron.

"Pasien ini mengalami keluhan pada tenggorokan yaitu merasakan seperti ada lendir," kata Erwin dalam keterangannya, Senin (3/1/2022).

Dikutip dari The Guardian, semakin banyak bukti atau riset yang menunjukkan varian COVID-19 lebih mungkin menyerang tenggorokan ketimbang paru-paru. Menurut para ilmuwan, hal ini yang menjadi alasan mengapa varian Omicron tampak kurang mematikan ketimbang varian terdahulunya.

Sedikitnya enam penelitian yang dimuat sejak varian Omicron muncul, menyimpulkan pasien yang terpapar didominasi keluhan pada tenggorokan. Jumlah pasien Omicron yang mengalami kerusakan paru lebih sedikit ketimbang pasien terpapar COVID-19 Delta, meski banyak studi belum peer review.

"Hasil dari semua mutasi yang membuat Omicron berbeda dari varian sebelumnya adalah bahwa ia mungkin telah mengubah kemampuannya untuk menginfeksi berbagai jenis sel," kata Deenan Pillay, profesor virologi di University College London, dikutip dari The Guardian.

"Intinya, tampaknya lebih bisa menginfeksi saluran pernapasan bagian atas, sel-sel di tenggorokan. Jadi itu akan berkembang biak di sel-sel di sana lebih mudah daripada di sel-sel jauh di dalam paru-paru. Ini benar-benar data awal tetapi hampir semua studi menyimpulkan hal serupa."

Menurut mereka, jika virus lebih banyak bereplikasi di sel tenggorokan, itu membuatnya lebih mudah menular, hal inilah yang kemungkinan menjadi penyebab atau dugaan kuat penyebaran Omicron sangat cepat. Sebaliknya, virus yang pandai menginfeksi jaringan paru-paru akan berpotensi lebih berbahaya tetapi kurang menular.

Para peneliti dari Grup Penelitian Virologi Molekuler Universitas Liverpool menerbitkan pra-cetak pada Boxing Day yang menunjukkan Omicron menyebabkan penyakit yang tidak terlalu parah pada tikus, menurut Prof James Stewart.

Makalah tersebut menunjukkan bahwa tikus yang terinfeksi Omicron kehilangan berat badan lebih sedikit, memiliki viral load atau jumlah virus yang lebih rendah dan mengalami pneumonia yang tidak terlalu parah.

"Model hewan menunjukkan bahwa penyakitnya tidak separah Delta dan virus asli Wuhan. Hewan tampak pulih lebih cepat, dan itu terkait dengan data klinis yang masuk."

"Indikasi awalnya adalah kabar baik, tapi itu bukan sinyal untuk lengah, karena jika Anda memiliki riwayat penyakit, konsekuensinya masih besar ada kasus kematian akibat Omicron," beber para peneliti.

Lab Neyts di Universitas Leuven di Belgia menemukan hasil serupa pada hamster Suriah, dengan viral load yang lebih rendah di paru-paru dibandingkan dengan varian lainnya. Prof Johan Neyts mengatakan ini mungkin karena virus lebih baik menginfeksi manusia daripada hamster, atau lebih mungkin menginfeksi saluran pernapasan bagian atas, atau memicu penyakit yang tidak terlalu parah.



Simak Video "Perbedaan Mencolok Gejala Awal Covid-19 dan Cacar Monyet"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT