Sabtu, 08 Jan 2022 07:30 WIB

Warga China di Xi'an Frustrasi, Ceritakan Sulitnya Lockdown

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Otoritas China bersiap memeriksa ratusan ribu sampel darah dari bank darah yang ada di kota Wuhan sebagai bagian dari penyelidikan asal-usul virus Corona (COVID-19). Kondisi COVID-19 di China. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Sebanyak 13 juta penduduk di Xi'an, China, terkunci di rumah-rumah mereka karena pemerintah menerapkan lockdown ketat untuk mengatasi penyebaran virus Corona. Sayangnya, kebijakan tersebut membuat warga frustrasi dan menderita.

Xi'an telah berada di bawah penguncian seluruh kota sejak 22 Desember. Ini adalah penguncian terlama di China sejak yang pertama di Wuhan, tempat wabah virus Corona dimulai hampir dua tahun lalu.

Beberapa warga mengaku tak mendapatkan makanan, perlengkapan dasar, bahkan perawatan medis.

Diberitakan New York Times, wanita hamil dan seorang anak laki-laki berusia 8 tahun yang mengidap leukemia termasuk di antara mereka yang ditolak perawatan medisnya.

Kemampuan China mengendalikan virus telah berkembang jauh sejak pandemi dimulai: China telah menginokulasi hampir 1,2 miliar orang dan membuat database kesehatan elektronik nasional untuk pelacakan kontak.

Namun pemerintah China masih bergantung pada metode memerangi virus yang sama dari awal 2020, termasuk karantina ketat, penutupan perbatasan, dan penguncian. Ini telah menyebabkan kekurangan makanan dan medis dan pertanyaan yang berkembang tentang berapa lama lagi strategi nol-Covidnya, yang terakhir di dunia, dapat berlanjut.

"Penjaga keamanan distrik seperti penjaga penjara dan kami seperti tahanan," kata Tom Zhao, seorang warga Xi'an, dengan frustrasi. Zhao (38) mengatakan telah bergabung dengan grup obrolan minggu lalu untuk mencari siapa saja yang dapat membantunya menemukan obat untuk ibunya, yang menderita diabetes tahap awal.

Xi'an telah melaporkan 1.800 kasus dalam wabah terbarunya, sangat rendah dibandingkan dengan jumlah kasus harian di belahan dunia lain. Dan ketika dunia berjuang untuk menahan penyebaran Omicron, di China para pejabat hanya melaporkan beberapa kasus varian lokal, dan tidak ada di Xi'an.

"Epidemi Xi'an adalah yang paling serius setelah Wuhan ditutup," kata Zeng Guang, seorang ahli epidemiologi China yang mengunjungi Wuhan pada hari-hari awal pandemi dan dikutip di media pemerintah pada Rabu.

Beberapa hari setelah penguncian, warga mulai memposting di media sosial tentang betapa sulitnya mendapatkan bahan makanan atau memesan makanan.

Setelah diyakinkan oleh pejabat bahwa tidak perlu menimbun, penduduk di seluruh kota menjadi lengah ketika kebijakan awal yang mengizinkan satu anggota setiap rumah tangga pergi setiap dua hari dihapuskan.

Selanjutnya
Halaman
1 2