Sabtu, 08 Jan 2022 10:40 WIB

Studi Terbaru Ungkap Vaksin COVID-19 Bisa Bikin Telat Haid

Hartaty Varadifa - detikHealth
ilustrasi pembalut Studi ungkap vaksinasi COVID-19 bisa bikin telat haid. (Foto: iStock)
Jakarta -

Banyak orang yang khawatir bahwa vaksin bisa mempengaruhi siklus menstruasi. Sebuah studi baru menemukan bahwa menstruasi sementara tertunda karena disebabkan oleh vaksinasi COVID-19.

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis Obstetrics & Gynecology, wanita yang telah divaksinasi rata-rata mengalami perubahan siklus menstruasi hanya satu hari ke pola menstruasi yang biasa.

Studi ini juga menyebutkan beberapa wanita mengeluh tentang siklus yang tidak teratur, bersama dengan pendarahan yang lebih berat dan terkadang ada rasa sakit. Ditemukan bahwa mereka yang mendapatkan kedua dosis vaksin selama siklus yang sama akan mengalami keterlambatan menstruasi menjadi dua hari lebih lambat dari biasanya.

Studi ini juga telah membantu melawan misinformasi anti-vaksin tentang topik tersebut, yang merajalela di media sosial.

Sedikit peningkatan panjang siklus menstruasi tidak signifikan secara klinis. Setiap perubahan kurang dari delapan hari diklasifikasikan sebagai normal oleh Federasi Internasional Ginekologi dan Obstetri.

Siklus menstruasi umumnya berlangsung sekitar 28 hari, tetapi jumlah yang tersebut bisa bervariasi dari satu wanita ke wanita lain, dan hal ini juga dapat berubah selama masa stres.


Pada Oktober 2020 dan September 2021, para peneliti ini melakukan studi melalui aplikasi kesuburan terhadap kurang dari 4.000 wanita penduduk AS berusia 18 hingga 45 tahun yang divaksin dan tidak divaksinasi yang dianonimkan.

Di antara 2.403 yang divaksinasi para peneliti mempelajari data yang dikumpulkan dari tiga siklus berturut-turut sebelum divaksin dan 3 siklus berturut-turut setelah mereka diberikan suntikan.

Ditemukan sekitar 10% dari wanita yang disuntik mengalami perubahan panjang menstruasi yang cukup besar dan menonjol secara klinis yaitu selama 8 hari atau lebih, para peneliti mengatakan bahwa menstruasi mereka kembali normal dalam dua siklus pasca-vaksinasi.

Tidak ada perubahan pada panjang menstruasi kedua kelompok dan peneliti mengatakan temuan mereka tidak bisa dikaitkan dengan stres akibat pandemi karena kelompok yang tidak divaksinasi tidak melihat perubahan apapun selama waktu yang sama.

Peneliti menyebutkan respons sistem kekebalan terhadap vaksin bisa menjadi faktor terhadap perubahan tersebut. Karena sistem kekebalan dan sistem reproduksi saling terkait

Sistem kekebalan yang meningkat mungkin berdampak pada poros hipotalamus-hipofisis-ovarium dan secara khusus, produksi protein inflamasi yang disebut sitokin menyebabkan cara sumbu ini mengatur waktu siklus menstruasi.

Perubahan tampak paling jelas ketika vaksinasi dilakukan di awal fase folikular, yang dimulai pada hari pertama periode menstruasi (pendarahan) dan berakhir ketika ovulasi dimulai.

Tim sekarang berharap untuk mengumpulkan lebih banyak data tentang siklus berikutnya di antara wanita yang divaksinasi untuk mengkonfirmasi pengembalian jangka panjang ke baseline, dan memperluas penelitian secara global sehingga mereka dapat membedakan efek antara merek vaksin.



Simak Video "Tawaran Vaksin Covid-19 dari Korsel Masih Dicuekin Korut"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)