Sabtu, 08 Jan 2022 13:29 WIB

WHO Tak Remehkan Omicron Meski Gejalanya Ringan, Ternyata Ini Alasannya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Corona Viruses against Dark Background Ilustrasi alasan WHO tidak anggap 'enteng' varian Omicron meski gejalanya ringan. Foto: Getty Images/loops7
Jakarta -

Meski diyakini menimbulkan gejala Omicron lebih ringan dibanding varian Delta secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan varian tersebur tak boleh digolongkan 'ringan'. Mengapa demikian?

Pimpinan WHO pada manajemen klinis, Janet Diaz, dalam konferensi pers di kantor pusat WHO di Jenewa menyebut studi awal menunjukkan adanya pengurangan risiko rawat inap dari Varian Omicron. Lebih lanjut, ditemukan penurunan tingkat keparahan baik pasien COVID-19 varian Omicron.

Pernyataan terkait pengurangan risiko gejala tersebut di antaranya mengacu pada studi di Afrika Selatan di Inggris. Akan tetapi, belum ada rincian lebih lanjut terkait studi dan usia kasus yang dianalisis.

Walhasil, salah satu pertanyaan besar kini adalah dampak infeksi varian Omicron pada kelompok lansia. Sebagian besar kasus yang dipelajari hingga kini terjadi pada kelompok usia muda.

"Meskipun Omicron tampaknya tidak terlalu parah dibandingkan Delta, terutama pada mereka yang divaksinasi, itu tidak berarti itu harus dikategorikan sebagai ringan," kata direktur jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam kesempatan yang sama, dikutip dari Reuters, Jumat (7/1/2022).

"Sama seperti varian sebelumnya, varian Omicron menimbulkan orang dirawat di rumah sakit dan membunuh orang," sambungnya.

Milyaran orang didunia tidak sepenuhnya terlindungi

Dalam kesempatan tersebut, Tedros juga menyinggung masalah ketidaksetaraan distribusi dan akses vaksin secara global. Berdasarkan tingkat peluncuran vaksin COVID-19 saat ini, 109 negara diprediksi akan gagal mencapai target WHO untuk 70 persen populasi divaksinasi pada Juli 2022.

"Peningkatan demi peningkatan di sejumlah kecil negara tidak akan mengakhiri pandemi sementara miliaran tetap sama sekali tidak terlindungi," katanya.

Penasihat WHO, Bruce Aylward, menyebut 36 negara bahkan belum mencapai 10 persen cakupan vaksinasi. Menurutnya, 80 persen pasien COVID-19 bergejala berat di dunia tidak divaksinasi.

Laporan epidemiologi mingguan WHO pada Kamis (6/1/2022) menyebut kasus meningkat 71 persen atau 9,5 juta dalam seminggu hingga 2 Januari dari pekan sebelumnya. Sementara kematian turun 10 persen atau 41.000.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)