Sabtu, 08 Jan 2022 14:00 WIB

Afsel Bawa Kabar Baik Soal Varian Omicron, Mari Merapat!

Vidya Pinandhita - detikHealth
Omicron adalah varian baru virus Corona. Virus ini pertama kali terdeteksi di Afrika. Ilustrasi dokter di Afrika Selatan mulai menemukan 'titik akhir' dari lonjakan varian Omicron. Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Lantaran gejala akibat infeksi varian Omicron lebih ringan dibanding varian Delta yang sempat menimbulkan gelombang COVID-19 sebelumnya, dokter di Afrika Selatan mulai melihat 'titik terang'.

Seiring angka kematian yang lebih rendah dibanding gelombang COVID-19 sebelumnya, dokter menyebut tingkat rawat inap di rumah sakit berpotensi menurun dalam waktu beberapa pekan mendatang.

Mengacu pada laporan International Journal of Infectious Diseases, dokter di Rumah Sakit Akademik Steve Biko di Kota Tshwane, Afrika Selatan, membandingkan 466 pasien varian Omicron yang dirawat sejak pertengahan November 2021 dengan 3.976 pasien yang dirawat sebelum itu. Diketahui, tingkat kematian selama lonjakan Omicron adalah 4,5% persen, dibandingkan dengan 21,3 persen pada periode sebelumnya.

Pasien Omicron dipulangkan setelah rata-rata 4 hari perawatan, sedangkan pasien dengan infeksi varian sebelumnya rata-rata dirawat selama 8 hari.

Pada puncak lonjakan varian Omicron, jumlah tempat tidur yang diisi dengan pasien yang terinfeksi adalah setengah dari periode sebelumnya.

"Wabah Omicron telah menyebar dan menurun ... dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memuncak dalam empat minggu," kata para peneliti, dikutip dari Reuters, Sabtu (8/1/2022).

Peneliti menambahkan, terdapat hasil penelitian bervariasi dari negara-negara mengacu pada perbedaan karakteristik populasi, serta tingkat kekebalan dari infeksi dan vaksinasi COVID-19. Namun melihat pola di Afrika Selatan, peneliti optimistis varian Omicron bisa menjadi tanda dari akhirnya lonjakan kasus varian Omicron.

"Berlanjut dan berulang secara global ... Omicron mungkin merupakan pertanda berakhirnya fase epidemi (krisis kesehatan)," sambungnya.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/kna)