Sabtu, 08 Jan 2022 15:00 WIB

Eks Petinggi WHO Sorot 'Super Immunity' COVID-19 RI

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pandemi COVID-19 DKI Jakarta makin hari makin terkendali. Salah satu indikatornya persentase kasus positif COVID-19 sudah berada di angka 0,9 persen. Eks petinggi WHO sorot 'super immunity' di Indonesia. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Belakangan ini, ramai kabar masyarakat Indonesia disebut-sebut sudah memiliki 'super immunity' terhadap virus Corona. Hal itu disebabkan cakupan vaksinasi dibarengi imunitas natural dari infeksi COVID-19. Lantas, apakah semakin banyak orang terinfeksi COVID-19 justru pertanda baik?

Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Profesor Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa 'super immunity terbentuk ketika seseorang sudah memiliki imunitas alamiah dengan terkena COVID-19, kemudian menerima vaksin COVID-19 sehingga imunitasnya semakin tinggi.

"Pada mereka yang sembuh dari sakit COVID-19 maka akan terbentuk antibodi, ini yang disebut imunitas alamiah," terangnya dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (6/1/2022).

"Data menunjukkan bahwa kalau mereka kemudian,sesudah sembuh, mendapat vaksinasi lagi maka imunitasnya akan tumbuh menjadi lebih baik lagi, dan inilah yang belakangan ini banyak disebut sebagai 'super-immunity' atau nama lainnya 'hybrid immunity'," sambungnya.

Namun Prof Tjandra menambahkan, orang dengan 'super immunity' tak berarti sepenuhnya kebal dari COVID-19. Pasalnya, efektivitas imunitas super tersebut dapat berkurang. Bahkan kini seiring merebaknya varian Omicron di Indonesia, 'super immunity' belum diketahui dampaknya terhadap infeksi Omicron.

Meski imunitas super tersebut terbentuk dari vaksin dan infeksi natural, Prof Tjandra menegaskan tak berarti seseorang lebih baik sakit COVID-19 lebih dulu untuk memiliki imunitas. Meski imunitas nantinya bisa dinaikkan dengan vaksin, penyakit COVID-19 tetap bisa berisiko buruk bagi kesehatan.

"Perlu dipahami bahwa dengan menyebutkan bahwa super immunity maka sama sekali tidak berarti mengatakan bahwa baiknya orang dapat sakit saja, lalu kemudian divaksin," terang Prof Tjandra.

"Ini pendapat yang salah, karena jatuh sakit seseorang tentu punya berbagai risiko besar bagi kesehatan dan bahkan mungkin juga kehidupan," pungkasnya.


Saksikan juga: Tangis Rindu Pak Ogah Pada Pak Raden

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/kna)