ADVERTISEMENT

Senin, 10 Jan 2022 12:20 WIB

BPOM Setujui 5 Vaksin Booster COVID-19, Ini Beda Homolog Vs Heterolog

Vidya Pinandhita - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Perbedaan homolog dan heterolog booster vaksin COVID-19. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pemberian booster vaksin COVID-19 di Indonesia dimulai 12 Januari 2022. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan emergency use of authorization (EUA) untuk 5 jenis vaksin COVID-19 yang akan dipakai.

Kelimanya adalah CoronaVac (buatan Sinovac), AstraZeneca, Pfizer, Moderna, dan Zifivax. Terdapat dua cara pemberian, yakni homolog dan heterolog. Apa perbedaannya?

Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), Profesor Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro,SpA(K) menjelaskan homolog adalah pemberian booster atau dosis vaksin COVID-19 lanjutan dengan jenis vaksin yang sama dengan dosis primer pertama dan kedua. Sedangkan pada heterolog, jenis vaksin booster atau lanjutan yang digunakan berbeda dengan dosis primer.

Pada kategori heterolog, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengkaji jenis vaksin COVID-19 mana yang bisa menimbulkan keamanan paling tinggi jika diberikan setelah dosis primer menggunakan merek vaksin COVID-19 berbeda.

"Mungkin sudah menjadi pandangan dari masyarakat bahwa untuk booster ini ada dua kategori. Bisa di-booster oleh dirinya sendiri yang kita katakan homolog atau booster dengan vaksin lain. Ini yang mungkin diceritakan Ibu Penny (Kepala BPOM) bagaimana BPOM mencari heterolognya yang cocok yang mana, untuk memberikan keamanan tinggi yang mana," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (10/1/2022).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut kini pihaknya tengah finalisasi penggunaan heterolog booster Sinovac, Pfizer, dan AstraZeneca untuk penerima dosis primer Sinoac. Pasalnya, kebanyakan masyarakat di Indonesia menerima vaksin COVID-19 primer dosis satu dan dua menggunakan Sinovac dan Pfizer.

"Vaksin booster-nya adalah Sinovac, Pfizer, AstraZeneca, primernya sebelumnya adalah Sinovac. Kita kan banyaknya Sinovac dan PFizer di Indonesia," ujarnya.

"Satu lagi adalah uji klinik untuk yang primer sebelumnya AstraZeneca dengan booster heterolognya adalah menggunakan Sinovac, Pfizer, atau homolog AstraZeneca. Kemudian kami juga sedang berproses untuk vaksin Sinopharm, Uji klinik Sinopharm sudah berlangsung, kami tunggu datanya," pungkas Penny.

Simak Video 'Bisakah Booster Ciptakan 'Super Immunity'? Ini Kata Eks Petinggi WHO':

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT