ADVERTISEMENT

Jumat, 14 Jan 2022 12:32 WIB

WHO Izinkan 2 Obat Baru COVID-19, Termasuk Obat Rematik Baricitinib

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Geneva, Switzerland - December 03, 2019: World Health Organization (WHO / OMS) Logo at WHO Headquarters Dua obat COVID-19 yang disetujui WHO. (Foto: Getty Images/diegograndi)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan dua obat baru ke dalam pedoman perawatan COVID-19. Pembaruan ini menyusul lonjakan varian Omicron yang meluas di banyak negara.

Adalah obat baricitinib, yang juga digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis alias rematik. Obat ini sangat dianjurkan untuk pasien COVID-19 bergejala parah bahkan dalam kondisi kritis, dikombinasikan dengan kortikosteroid.

"Obat tersebut mengurangi risiko kemungkinan pasien membutuhkan ventilator dan telah terbukti meningkatkan peluang bertahan hidup tanpa tanda-tanda peningkatan efek samping atau reaksi yang berbahaya," kata panel ahli internasional badan PBB mengatakan dalam pedoman yang diterbitkan oleh jurnal medis Inggris.

Panel tersebut juga memberikan 'rekomendasi bersyarat' untuk sotrovimab, pengobatan antibodi monoklonal eksperimental, bagi mereka dengan gejala COVID-19 tidak parah tetapi risiko masuk rumah sakit terbilang tinggi. Antibodi monoklonal adalah senyawa yang dibuat di laboratorium yang meniru mekanisme pertahanan alami tubuh.

WHO mencatat lebih dari 15 juta kasus baru COVID-19 dalam seminggu terakhir, sejauh ini menjadi rekor tertinggi sejak pandemi, didorong oleh peningkatan kasus varian Omicron yang menggantikan varian Delta hampir di seluruh negara.

Rekomendasi tersebut didasarkan pada hasil 7 riset atau uji coba yang melibatkan lebih dari 4.000 pasien dengan kasus COVID-19 bergejala ringan hingga sedang, parah, serta kritis.

WHO kemudian menentang penggunaan Ivermectin, terapi plasma konvalesen, hingga hydroxychloroquine pada pasien COVID-19 dalam kategori gejala apapun.

"Panduan menambah rekomendasi sebelumnya untuk penggunaan penghambat reseptor interleukin-6 dan kortikosteroid sistemik untuk pasien dengan COVID-19 yang parah atau kritis; rekomendasi bersyarat untuk penggunaan casirivimab-imdevimab (pengobatan antibodi monoklonal lain) pada pasien tertentu; dan menentang penggunaan plasma konvalesen, ivermectin dan hydroxychloroquine pada pasien Covid-19 terlepas dari tingkat keparahan penyakitnya," kata WHO dalam sebuah pernyataan.

Apa Itu Baricitinib?

Baricitinib diproduksi oleh raksasa farmasi Amerika Serikat Eli Lilly, dan sementara versi generik tersedia di India dan Bangladesh, paten berlaku di banyak negara lain termasuk Brasil dan Indonesia.

"Selama hampir dua tahun, kami tidak berdaya menyaksikan orang-orang meninggal karena COVID-19 di tengah gelombang penyakit yang dahsyat. Di negara-negara tempat MSF bekerja," kata Dr Márcioda Fonseca, penasihat medis penyakit menular untuk Kampanye Akses MSFA dalam sebuah pernyataan.

"Kemungkinan untuk menyediakan perawatan intensif tingkat tinggi terbatas, sehingga menyelamatkan lebih banyak nyawa orang dengan infeksi parah dan kritis sangat bergantung pada akses ke obat-obatan yang terjangkau yang dapat kami tambahkan ke steroid, oksigen, dan perawatan suportif dekat yang telah kami sediakan di proyek kami. Saat perawatan baru muncul, akan menjadi tidak manusiawi jika tetap tidak tersedia di rangkaian terbatas sumber daya, hanya karena dipatenkan dan terlalu mahal."



Simak Video "BPOM Beri Izin Paxlovid Jadi Obat Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT