Senin, 17 Jan 2022 05:30 WIB

Uji Vaksin Booster Litbangkes RI Diungkap, Sinovac Vs Moderna Manjur Mana?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta -

Efektivitas pembentukan antibodi pada 2 jenis vaksin booster diungkap oleh ilmuwan Litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) RI. Ada dua vaksin yang dibandingkan yakni Sinovac atau Coronavac yang berbasis inactivated virus, dan Moderna yang berbasis mRNA.

Salah seorang peneliti, Ririn Ramadhany, menjelaskan dalam penelitian ini ada dua kelompok partisipan yang semuanya telah mendapat dosis lengkap vaksin Sinovac. Kelompok pertama terdiri dari 81 partisipan yang diberi booster homolog atau sejenis yakni Sinovac, dan kelompok kedua terdiri dari 96 partisipan yang diberi booster heterolog yakni Moderna.

"Kami mengambil sampel sebelum vaksinasi booster dan sebulan setelah mendapat vaksinasi booster," jelas Ririn dalam simposium 'Combating COVID-19 Pandemic without Boundaries', Minggu (16/1/2022).

Interval antara dosis kedua dengan pemberian booster cukup beragam, antara 1,5 bulan hingga 9,5 bulan. Hasil pemeriksaan sampel sebelum booster menunjukkan nilai median titer antibodi partisipan sebesar 488,98 unit/mL.

Sebulan setelah mendapat vaksinasi booster, kadar titer antibodi para partisipan kembali diamati. Pada penerima booster homolog Sinovac, titer antibodi meningkat 7,8 kali lipat menjadi 2.246 unit/mL. Sementara itu, titer antoibodi pada penerima booster heterolog Moderna meningkat 67 kali lipat menjadi 32.896 unit/mL.

Pada booster homolog, tidak ada perbedaan signifikan terkait peningkatan titer antibodi pada interval pemberian di bawah maupun di atas 6 bulan. Sedangkan pada booster heterolog, titer antibodi meningkat lebih tinggi ketika diberikan di atas interval 6 bulan.

Meski demikian, Ririn menegaskan bahwa kadar titer antibodi TIDAK menunjukkan tingkat perlindungan. Selain itu, penelitian masih berlanjut dan penelitian ini belum mengamati antibodi mana saja yang bersifat menetralkan.

"Seperti kita tahu, tidak semua antibodi bisa bekerja sebagai antibodi penetralisir, sebagian hanya bekerja untuk aktivitas binding," jelas Ririn.

(up/up)