Senin, 17 Jan 2022 16:49 WIB

Xi Jinping Ketar-Ketir, China Cetak Rekor Tingkat Kelahiran Terendah

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
A child holds a dinosaur balloon during Childrens Day at a mall in Beijing on Tuesday, June 1, 2021. Chinas ruling Communist Party said it will ease birth limits to allow all couples to have three children instead of two in hopes of slowing the rapid aging of its population, which is adding to strains on the economy and society. (AP Photo/Ng Han Guan) Foto: AP/Ng Han Guan
Jakarta -

Angka kelahiran di China anjlok ke rekor terendah pada 2021 lalu. Data resmi Biro Statistik Nasional menunjukkan tingkat kelahiran negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu turun menjadi 7,52 kelahiran per 1.000 orang, turun dari 8,52 pada 2020.

Dikutip dari Reuters, angka ini menjadi yang terendah yang tercatat dalam data Buku Tahunan Statistik tahunan negara itu sejak 1978. Ini juga terendah sejak Komunis Tiongkok didirikan pada 1949.

Makin banyak warga China yang dilaporkan ogah punya anak, bahkan menikah. Padahal Presiden China, Xi Jinping, sudah berupaya untuk meningkatkan angka kelahiran dan menekan populasi lansia di Negeri Tirai Bambu.

Kebijakan tersebut adalah dengan mengizinkan pasangan memiliki tiga anak. Pemerintah China bahkan menawarkan bantuan pinjaman bank kepada pasangan yang sudah menikah dan memiliki anak.

Tidak sedikit wanita yang menolak memiliki anak karena tak punya cukup uang untuk membesarkannya. Di China, membesarkan anak memang memerlukan biaya yang besar. Pendidikan menjadi salah satu bidang yang meraup biaya besar.

Fenomena 'resesi seks' ini berujung pada penurunan angka kelahiran. Penurunan angka kelahiran berarti di masa depan, populasi orang tua akan lebih banyak dari usia produktif.

Pada negara yang angka kelahirannya rendah, pemerintah harus memikirkan cara merawat populasi yang kebanyakan sudah lanjut usia.



Simak Video "Penampakan Penduduk Beijing yang Panic Buying"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)