Selasa, 18 Jan 2022 05:30 WIB

Jangan Tunggu Omicron Meledak! Pakar Sarankan Batasi Dulu Sekolah Tatap Muka

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sekolah di Jakarta menggelar tatap muka terbatas hari ini. Kapasitas ruang kelas bisa terisi 100 persen dengan durasi belajar 6 jam. Sekolah tatap muka di tengah ancaman Omicron (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Indonesia diyakini bakal menghadapi kenaikan kasus COVID-19. Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau pembatasan aktivitas perkantoran setidaknya selama dua pekan ke depan.

"Kalau di kantor tidak perlu 100 persen ya tidak usah 100 persen yang hadir, jadi diatur saja melihat situasinya. Apakah dibikin 75 persen untuk dua minggu ke depan. Itu saya kira bisa dilakukan asesmen oleh kantor masing-masing," ujarnya dalam konferensi pers terkait Hasil Ratas Evaluasi PPKM, Minggu (16/1/2022).

Dihubungi detikcom, Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menjelaskan pembatasan WFO (work from office) adalah langkah penting untuk menekan risiko kenaikan kasus COVID-19, khususnya terkait varian Omicron.

Ia menegaskan, langkah ini perlu dibarengi penerapan sekolah secara daring. Mengingat, kini Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen sudah berlangsung di DKI Jakarta.

"WFH (Work from Home) menjadi penting untuk dilakukan dan itu sudah saya sampaikan beberapa waktu lalu karena bagaimana pun ini berbahaya. Juga termasuk sekarang belajar daring atau secara online menjadi penting. Karena ini akan membantu mengurangi mobilitas," terang Dicky pada detikcom, Senin (17/1).

"Kita jangan menunggu sampai meledak karena kalau sudah meledak, katakanlah awal Februari, sudah terlambat nanti. Karena kecepatan dari Omicron ini sangat efektif dalam menularkan dan dalam kecepatannya menyebar. Jumlah infeksinya bisa 4 kali lebih banyak," sambungnya.

Senada dengan penjelasan Dicky, pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono menegaskan pembatasan kegiatan sosial seharusnya dijalankan secara komprehensif. Ia menegaskan, kenaikan COVID-19 varian Omicron tidak bisa dicegah, namun bisa diperlambat.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Kasus Omicron RI Capai Angka 882, Tersebar di Mana Saja?"
[Gambas:Video 20detik]