Selasa, 18 Jan 2022 06:30 WIB

20 Menit di Udara, Virus Corona Kehilangan 90 Persen Kemampuan Menginfeksi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Used medical masks against coronavirus in trash can. Corona virus or covid-19 finish concept. Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/Julia_Sudnitskaya)
Jakarta -

COVID-19 kehilangan kemampuan menginfeksi hingga 90 persen setelah bertahan di udara selama 20 menit. Sebagian besar virus Corona kehilangan kemampuan menular dalam lima menit pertama.

Hal ini terlihat dari simulasi pertama di dunia, yang dianalisis para pakar dikaitkan dengan bagaimana COVID-19 bertahan di udara. Temuan ini menunjukkan pentingnya menjaga jarak dan memakai masker dalam mencegah COVID-19.

"Orang-orang telah terfokus pada ruang yang berventilasi buruk dan berpikir tentang transmisi udara melalui beberapa meter jauhnya atau melintasi ruangan," sebut Prof Jonathan Reid, direktur Pusat Penelitian Aerosol Universitas Bristol dan penulis utama studi tersebut.

"Saya tidak mengatakan itu tidak terjadi, tetapi saya pikir risiko terbesar dari paparan virus Corona hingga kini adalah jarak kalian dengan seseorang yang terpapar," sambung dia.

"Ketika Anda bergerak lebih jauh, aerosol tidak hanya menipis, ada juga virus yang lebih sedikit menular karena virus telah kehilangan infektivitas."

Para peneliti berasumsi terkait berapa lama virus bertahan di udara berdasarkan analisis droplet atau percikan air liur yang dimasukkan ke dalam wadah tertutup, disebut drum Goldberg.

Dengan menggunakan metode ini, peneliti AS menemukan bahwa virus Corona masih dapat dideteksi setelah tiga jam. Namun eksperimen semacam itu tidak secara akurat meniru apa yang terjadi ketika seseorang batuk atau bernapas.

Sebagai gantinya, para peneliti dari University of Bristol mengembangkan peralatan yang memungkinkan mereka menghasilkan sejumlah partikel kecil yang mengandung virus dan dengan lembut mengangkatnya di antara dua cincin listrik selama antara lima detik hingga 20 menit. Sambil mengontrol suhu, kelembapan, sinar UV dengan ketat, serta intensitas cahaya di sekitarnya.

"Ini adalah pertama kalinya seseorang dapat benar-benar mensimulasikan apa yang terjadi pada aerosol selama proses pernapasan," kata Reid.



Simak Video "Faktor yang Memengaruhi Keparahan Pasien Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)