ADVERTISEMENT

Rabu, 19 Jan 2022 16:40 WIB

Siklus 6 Tahunan, Kasus DBD di Kulonprogo Diprediksi Melonjak di 2022!

Jalu Rahman Dewantara - detikHealth
MANILA, PHILIPPINES - A worker wearing a hazmat suit uses a fogging machine to disinfect a street as preventive measure against COVID-19 in Manila, Philippines. Curfews and stricter lockdowns are being implemented in several areas across the Philippines as the country experiences its worst surge in cases since the lockdown began more than a year ago. The country has reported more than 693,000 cases of COVID-19 so far, with at least 13,095 deaths. (Photo by Ezra Acayan/Getty Images) Fogging nyamuk demam berdarah dengue (Ilustrasi: Getty Images/Ezra Acayan)
Kulonprogo -

Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi melonjak pada 2022. Masyarakat diminta untuk waspada.

Prediksi ini berdasarkan hasil analisa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo. Dalam analisa itu, disebutkan bahwa setiap periode 6 tahun sekali bakal ada lonjakan kasus DBD di kabupaten berjuluk Bumi Binangun tersebut.

Siklus ini dimulai sejak tahun 2010. Saat itu, jumlah kasus DBD mencapai angka 472 kasus per tahun. Kemudian tahun-tahun berikutnya jumlah kasus melandai dan kembali meningkat 6 tahun berikutnya, yakni pada 2016 yang mencapai 381 kasus. Adapun pada 2022 ini merupakan tahun ke-6.

"Data yang kami himpun sejak tahun 2010 di mana waktu itu jumlah kasusnya mencapai 400, kemudian tahun-tahun berikutnya menurun. Selanjutnya meningkat lagi di tahun 2016 mencapai 300 kasus, atau tertinggi di bandingkan 5 tahun sebelumnya," ungkap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo, Rina Nuryati, dalam jumpa pers di Kantor Dinkes Kulon Progo, Selasa (18/1/2022).

"Nah tahun ini merupakan tahun ke 6 sejak tahun 2016, sehingga prediksi kami tahun ini jumlah kasusnya melonjak. Karena itu kita harus bersiap hadapi siklus 6 tahun ini" imbuhnya.

Rina mengungkapkan melonjaknya kasus DBD tahun 2022 sudah terlihat sejak awal bulan ini. Hingga pekan ke 2 Januari tercatat sudah ada 116 kasus dengan 39 di antaranya dirawat di rumah sakit.

Jumlah ini tergolong tinggi karena tercatat hanya dalam kurun waktu kurang dari sebulan. Pun demikian jika dibandingkan dengan 3 tahun sebelumnya. Pada 2019 misalnya jumlah kasus DBD selama setahun mencapai 194 kasus dengan 0 kematian. Kemudian pada 2020 ada 316 kasus dengan 3 kematian dan 2021 ada 213 kasus dengan 6 kematian.

"Nah yang jadi fokus kami adalah bagaimana menekan jumlah kasus dan kematian yang trendnya naik itu," ujar Rina.

Rina menyebut lonjakan kasus ini beriringan dengan kondisi cuaca hujan yang sedang melanda Kulon Progo sejak Oktober 2021 lalu. "Faktor cuaca ini cukup menentukan ya, karena sejak Oktober, sampai hari ini kan hujan, kemudian kasus juga terus bertambah," ucapnya.

Disinggung soal wilayah yang paling banyak ditemukan kasus DBD, Rina menyebut ada 3 kapanewon, yaitu Wates, Sentolo dan Pengasih. Penyebabnya karena tiga kapanewon itu merupakan kawasan padat penduduk.

"Dari catatan kami ada 3 kapanewon yang paling banyak kasus, yaitu Wates, Sentolo dan Pengasih. Ini karena populasi warganya banyak, dan permukiman penduduk padat, sementara kan jarak terbang nyamuk penyebab DBD itu sejauh 200 meter, jadi mudah menular. Beda jika misalnya di Samigaluh yang jarak antar rumah jauh-jauh," ucapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT