Rabu, 19 Jan 2022 18:43 WIB

BKKBN Cegah Stunting dengan Pil KB, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Ditengah percepatan pembangunan infrastruktur, Indonesia justru masih bergelut dengan stunting. Angka terbesar stunting berada di Nusa Tenggara Timur, begini potretnya. Angka stunting di Indonesia masih terbilang tinggi (Ilustrasi: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) meluncurkan pil KB bagi ibu menyusui dalam mendukung ASI (air susu ibu) eksklusif untuk mencegah stunting, Rabu (19/1/2022). Peluncuran tersebut dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Banyak orang mungkin berpikir kalau pil KB ini hanya berguna untuk mengatur kelahiran dan jumlah anak. Persepsi ini tidak salah, hanya saja ada yang kurang. Sebab, manfaat pengguna pil KB juga bisa menghasilkan anak-anak yang berkualitas dan terhindar dari stunting. Nah sebelum bertanya kenapa bisa begitu, kenali dulu apa itu stunting.

Dikutip dari lama resmi BKKBN, stunting adalah kekurangan gizi pada bayi di 1.000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama serta menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.

Akibat mengalami kekurangan gizi atau stunting menahun, bayi yang tumbuh akan lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya. Namun, perlu diingat juga, stunting itu pasti bertumbuh pendek, sedangkan yang bertubuh pendek belum tentu stunting ya.

Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo, SpOG(K) mengatakan, angka stunting disebabkan oleh berbagai faktor kekurangan gizi pada bayi. Menurut Hasto, dari 5 juta kelahiran bayi setiap tahun, sekitar 1,2 juta bayi lahir dengan kondisi stunting.

Stunting di Indonesia masih terbilang tinggi dan masih berada pada angka dua digit, yaitu 14 persen. Untuk itu, pemerintah Indonesia menargetkan angka stunting turun pada tahun 2024.

Masalah ini tak boleh kita sepelekan ya guys. Sebab, jika anak sudah terkena stunting atau kekurangan gizi dapat mengakibatkan sejumlah faktor kesehatan, seperti tidak bisa tinggi, kurang cerdas, dan mudah sakit di masa tua.

"Jadi yang seharusnya dia (anak) tingginya 175, karena 1.000 hari kurang dari 24 bulan itu sering sakit-sakitan, ASI tidak cukup, makanan tidak cukup, hanya dikasih mie cilok saja, dan tidak dikasih ikan dan telur, maka kemudian (tinggi) dia (anak) besok tidak bisa mencapai 170. Hanya 150 lebih sedikit ataupun kurang," kata Hasto.

"Stunting bukan keturunan bukan genetik, tapi stunting adalah anak yang terlantar," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2