Minggu, 23 Jan 2022 12:09 WIB

Apa itu Metode Surrogate yang Dipakai Priyanka Chopra untuk Punya Bayi

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
LONDON, ENGLAND - APRIL 11: Awards Presenter Priyanka Chopra Jonas attends the EE British Academy Film Awards 2021 at the Royal Albert Hall on April 11, 2021 in London, England. (Photo by Jeff Spicer/Getty Images) Pasangan Priyanka Chopra dan Nick Jonas. (Foto: Getty Images/Jeff Spicer)
Jakarta -

Baru-baru ini, pasangan artis Priyanka Chopra dan Nick Jonas mengumumkan kabar bahagia terkait kelahiran anak pertamanya. Persalinan tersebut diketahui menggunakan metode surrogate atau surogasi.

Kabar ini pun diumumkan langsung oleh Priyanka Chopra dan Nick Jonas melalui akun Instagramnya masing-masing pada hari Jumat, (21/01/2022), waktu dini hari. "Kami sangat senang mengumumkan kelahiran anak kami melalui metode surrogate. Kami dengan hormat meminta privasi di tengah momen spesial ini dan kami akan lebih fokus untuk keluarga," tutur Priyanka Chopra, dikutip dari akun Instagramnya @priyankachopra.

Kelahiran anak pertama mereka ini tentunya sangat menarik perhatian lantaran terjadi melalui proses surrogate atau surogasi. Ditambah lagi, masih banyak orang yang masih belum mengetahui metode persalinan ini.

[Gambas:Instagram]



Apa Sih yang Dimaksud Metode Surrogate?

Dikutip dari RS News, metode surrogate atau surogasi adalah proses 'menitipkan' anak di dalam rahim wanita lain. Penitipan itu dilakukan dengan cara menyatukan sel sperma dan sel telur dari pasangan ke dalam rahim wanita lain alias ibu titipan.

Nah, metode surrogate sendiri memiliki dua jenis yang dikenal di dunia, yaitu traditional surrogate dan gestational surrogates. Dikutip dari WebMD, traditional surrogate adalah seorang wanita yang bersedia diinseminasi buatan dengan sperma donor dari calon ayah si bayi.

Nantinya bayi yang dilahirkan tersebut akan memiliki hubungan genetik dengan seorang wanita yang menjadi ibu titipan. Hal ini karena sel telur dan rahim yang digunakan adalah milik wanita yang menjadi ibu titipan tersebut.

Sedangkan metode gestational surrogate merupakan proses sel telur yang diambil dari seorang ibu kemudian dibuahi oleh sperma dari ayah. Setelah itu, embrio ditempatkan dalam rahim seorang wanita lain yang menjadi ibu titipan. Proses ini juga dikenal sebagai In Vitro Fertilization atau iVF.

Nah, bedanya dengan metode traditional surrogate, proses gestational surrogates tidak akan mewarisi gen seorang wanita yang menjadi ibu titipan. Sebab, sel telur dan sperma yang digunakan berasal dari pasangan atau orang tua kandung dari si bayi tersebut.

Siapa yang Bisa Menggunakan Metode Surrogate?

Metode surrogate bisa digunakan atau dipertimbangkan oleh wanita yang memiliki masalah dengan rahimnya, histerektomi, atau berisiko tinggi dengan penyakit lainnya jika harus hamil.

Selain itu, metode ini juga bisa digunakan oleh pasangan gay (lawan jenis) atau pasangan yang tak bisa mengadopsi anak karena usia atau status perkawinan mereka.

Syarat Calon Ibu Titipan yang Boleh Mengikuti Metode Surrogate

Calon ibu yang dititipkan sel telur dan sperma pada metode surrogate harus memenuhi beberapa syarat dan kriteria. Dikutip dari WebMD, berikut syaratnya:

  • Usia minimal 21 tahun
  • Telah melahirkan setidaknya satu bayi dengan kondisi sehat
  • Lulus pemeriksaan psikologis oleh profesional kesehatan mental
  • Menandatangani kontrak tentang peran dan tanggung jawab mereka dalam kehamilan

Bagi peserta program surrogate bisa mencari atau meminta kepada teman dan keluarga terdekat untuk menjadi ibu titipan. Bisa juga menggunakan penyedia jasa surrogate untuk mencari wanita yang mau dititipkan rahimnya.



Simak Video "Bund, Yuk Kenali Tanda-tanda Depresi Pasca Melahirkan"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)