Senin, 24 Jan 2022 08:03 WIB

Dialami Pasien Omicron RI yang Meninggal, Ini Saran Dokter Soal Saturasi Drop

Vidya Pinandhita - detikHealth
Woman hand introduced in a oximeter to check oxygen levels and pulse because Covid-19 pandemic Oksimeter bisa digunakan untuk mengukur saturasi oksigen pada pasien COVID-19 isoman. Foto: Getty Images/iStockphoto/Juanmonino
Jakarta -

Kementerian Kesehatan RI menyebut dua pasien COVID-19 varian Omicron yang meninggal dunia sempat mengalami sesak napas dan saturasi oksigen yang rendah.

"Belum di ICU tapi sudah pakai oksigen karena saturasi rendah," kata juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi kepada detikcom, Sabtu (22/1/2022).

Kemenkes juga menyebut, sesuai Surat Edaran Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.01/MENKES/18/2022 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus Covid-19 Varian Omicron yang ditetapkan pada 17 Januari 2022, pasien COVID-19 bergejala ringan hingga berat perlu menjalani perawatan di rumah sakit.

"Melalui Surat Edaran ini, penanganan pasien konfirmasi Omicron sesuai dengan penanganan COVID-19, dimana untuk kasus sedang sampai berat dilakukan perawatan di rumah sakit, sementara tanpa gejala hingga ringan, difokuskan untuk Isolasi mandiri dan Isolasi Terpusat" jelas dr Nadia, dikutip dari laman Kemenkes.

Kapan perlu ke rumah sakit?

Dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FISR, FAPSR sempat menjelaskan saturasi oksigen adalah salah satu penentu perlu atau tidaknya suplementasi oksigen oleh rumah sakit.

Pada pasien COVID-19 isoman, saturasi oksigen bisa diukur menggunakan oksimeter. Suplementasi oksigen diperlukan jika saturasi oksigen berada di angka kurang dari atau sama dengan 93 persen.

"Pemberian tabung oksigen hanya di rumah jikalau mungkin sebagai pertolongan pertama bisa dilakukan di rumah, tapi segera ke rumah sakit. Pada kasus COVID ini, (kalau) pasien sudah membutuhkan oksigen berarti dia sudah derajatnya berat. Pasien ini tidak bisa dirawat di rumah," lanjutnya.

Menghadapi kondisi tersebut, dr Agus menegaskan langkah pertama adalah tetap tenang. Atur napas dengan baik, coba prone position, dan beri suplementasi oksigen jika ada.

Jika kadar saturasi oksigen masih rendah, segera ke rumah sakit.

"Bagaimana pun caranya, wajib ke rumah sakit. Kalau di rumah, risiko mortalitas sangat tinggi karena terjadi kerusakan paru lebih luas. Hanya ada di rumah sakit, tidak bisa dilakukan di rumah obat-obat dalam bentuk infus injeksi memang kita harus tahu betul bahwa kondisi itu berisiko kalau sudah butuh oksigen," pungkas dr Agus.

Simak Video 'Mewaspadai Kasus Kematian Akibat Varian Omicron':

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)