Rabu, 26 Jan 2022 06:19 WIB

Round Up

Bantah Efek Serius Vaksin COVID-19 pada Anak, Komnas KIPI Buka Data

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Vaksinator memberi vaksin Sinovac dosis pertama  kepada anak-anak di kawasan Perumahan Layar Permai, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Jumat (17/12). KIPI vaksin COVID-19 pada anak cenderung lebih ringan dibanding pada orang dewasa (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menyebut efek samping pemberian vaksin COVID-19 pada anak cenderung lebih rendah dibanding pada orang dewasa. KIPI serius paling banyak ditemukan pada usia 31-45 tahun.

Hal ini ditegaskan Ketua Komnas KIPI, Prof Hindra Irawan Satari, dalam siaran pers Kementerian Kesehatan RI, Selasa (25/1/2022).

"Dari segi umur, KIPI pada usia muda lebih rendah dari yang usia produktif dan lansia. Jadi tidak benar jika KIPI pada anak lebih tinggi," tegasnya.

Lebih rinci, Prof Hindra mengungkap data temuan KIPI pada vaksinasi COVID-19. Berikut datanya.

  • usia 31-45 tahun sebanyak 122 kasus
  • usia 18-30 tahun sebanyak 97 kasus
  • usia di atas 59 tahun sebanyak 77 kasus
  • usia 46-59 tahun sebanyak 68 kasus
  • usia 12-17 tahun sebanyak 19 kasus
  • usia 6-11 tahun sebanyak 1 kasus.

Temuan ini sejalan dengan hasil uji klinis yang dilakukan sebelum vaksin COVID-19 diberikan untuk umum. Dalam uji klinis, temuan KIPI cenderung ringan dan bisa diatasi.

"Dari uji klinis fase 1 dan 2 vaksin Sinovac yang telah kami lakukan pada anak dan remaja usia 3-17 tahun menunjukkan bahwa reaksi yang dialami cenderung ringan, mayoritas mengalami nyeri lokal, diikuti demam dan batuk," terang Prof Hindra.

Pada vaksin Pfizer, efek samping yang paling dominan mencakup keluhan sebagai berikut:

  • Kemerahan
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Menggigil.


Simak Video "Kemenkes Bolehkan Vaksin Sinovac Jadi Pilihan Booster Halal"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)