Rabu, 26 Jan 2022 10:02 WIB

'Broken Heart Syndrome', Sakit Jantung yang Dipicu Stres dan Sedih Mendalam

Vidya Pinandhita - detikHealth
Ilustrasi karyawan stres karena pekerjaan. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Putri Nurul Arifin, Maura Magnalia, meninggal dunia akibat henti jantung di usia 27 tahun. Suami Nurul, Mayong Suryo, menyebut putrinya kemungkinan sedang mengalami stres dan kurang tidur sebelum meninggal dunia.

"Mungkin karena kondisinya lagi drop dia tidak tidur, dia lagi ngurusin wisudanya bulan depan dia akan wisuda dari Sydney University baru selesai S2. Wisudanya masih belum tahu boleh atau tidak pergi ke Australia karena masih lockdown," ujar Mayong, Selasa (25/1/2022).

"Dia juga melamar kerja, mungkin karena stres beberapa hari tidak tidur dan ya begitulah ternyata ada beberapa hal yang tidak bisa dideteksi," lanjutnya.

Dihubungi secara terpisah, spesialis jantung dari Siloam Hospital, dr Vito A Damay, SpJP(K) penyebab henti jantung sebenarnya tidak bisa diketahui pasti tanpa pemeriksaan forensik. Namun pada usia di bawah 35 tahun, penyebab paling umum yakni gangguan struktur jantung seperti kardiomiopati dan aritmia.

"Aritmia jantung usia muda, seringkali memicu henti jantung. Tidak hanya ketika sedang aktivitas, tidak jarang terjadi justru ketika sedang tidur," jelas dr Vito saat dihubungi detikcom, Selasa (25/1).

"Penyakit kardiomiopati atau kelainan otot dan fungsi jantung juga bisa menjadi dasar penyakit yang menyebabkan henti jantung mendadak di usia muda," imbuhnya.

Dalam kesempatan lainnya, dr Vito menjelaskan stres dan rasa sedih mendalam memang secara medis terbukti memiliki hubungan dengan risiko kardiomiopati. Ia menjelaskan kondisi tersebut sebagai 'Broken Heart Syndrome' atau 'Kardiomiopati Takotsubo'.

"Ketika dia (pasien) mengalami kesedihan tersebut, dia mengeluhkan sakit dada. Sakit dada ini ketika datang, dia seringkali memang menyerupai seperti orang serangan jantung. Ketika itulah mesti memeriksakan diri. Apa yang mesti diperiksakan sama seperti orang serangan jantung," terang dr Vito dalam akun YouTube-nya (DRV CHANNEL), dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan.

Bisakah disembuhkan?

Menurutnya, orang dengan Broken Heart Syndrome berisiko mengalami gangguan irama jantung. Akan tetapi di lain sisi, terdapat risiko kesembuhan yang tinggi. Dengan bantuan obat, kemampuan kerja jantung diharapkan bisa kembali seperti semula.

"Peluang kesembuhan cukup tinggi. Artinya bisa kembali seperti semula. Sebagian besar kembali lagi dengan bantuan obat-obatan dan ada juga yang sembuh sendiri. Namun dengan obat-obatan, mungkin kemampuan relaksasi jantung, memompa darah, bisa kembali terjaga kembali pulih," jelas dr Vito.

"Ada hal yang dikhawatirkan, satu gangguan irama jantung. Kedua gagal jantung yang menetap. Tentu masih ada ancaman seperti itu. Obat-obatan membantu mengembalikan irama jantung dan menjaga performa pompa jantung supaya mudah-mudahan bisa seperti normal kembali," pungkasnya.

Simak Video 'Putri Nurul Arifin Dimakamkan di San Diego Hills Hari Ini':

[Gambas:Video 20detik]



(vyp/up)