Rabu, 26 Jan 2022 20:00 WIB

COVID-19 Ngelonjak Lagi Gegara Omicron, Imun Warga RI Sudah Cukup Kuat?

Vidya Pinandhita - detikHealth
Pandemi COVID-19 DKI Jakarta makin hari makin terkendali. Salah satu indikatornya persentase kasus positif COVID-19 sudah berada di angka 0,9 persen. COVID-19 RI melonjak lagi akibat varian Omicron. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kasus COVID-19 RI kini melonjak kembali akibat penyebaran varian Omicron. Lantas dengan cakupan vaksinasi COVID-19 RI hingga kini, sudah mumpunikah imunitas masyarakat RI hadapi imbas lonjakan kasus COVID-19?

Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman, Wien Kusharyoto, menyebut dari segi persentase cakupan vaksinasi COVID-19, Indonesia sebenarnya tidak kalah dari negara-negara maju. Namun menurutnya, tingkat kekebalan masyarakat bukan hanya ditentukan jumlah orang yang sudah divaksinasi, melainkan juga jenis vaksin COVID-19 yang digunakan.

"Kita bisa melihat yang pertama dari jumlah yang divaksinasi. Boleh dikatakan sudah cukup tinggi, tidak kalah dengan negara-negara maju. Namun sekali lagi bahwa kekebalan ini tergantung jenis vaksin yang digunakan," ujarnya dalam konferensi pers bertajuk 'Riset Pengembangan Vaksin COVID-19 untuk Indonesia Pulih Bersama Bangkit Perkasa', Rabu (26/1/2022).

"Seperti yang kita tahu, vaksin rata-rata merupakan vaksin Sinovac. Apakah kemudian ini lebih efektif dibandingkan dengan vaksin Moderna atau Pfizer, terutama sekarang ada varian Omicron?" sambungnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wien juga menyinggung perlindungan dari vaksin COVID-19 turun dalam waktu beberapa bulan setelah suntikan dosis lengkap. Misalnya Pfizer, setelah lewat enam bulan dari suntikan dosis kedua, perlindungan menurun bisa sampai tersisa dua persen.

Begitu juga ketika berhadapan dengan varian Omicron, banyak studi menunjukkan sejumlah jenis vaksin COVID-19 mengalami penurunan efektivitas. Maka dari itu, pemberian dosis lanjutan atau vaksin COVID-19 booster menjadi kunci untuk mengantisipasi lonjakan kasus COVID-19 RI akibat varian Omicron.

"Akan lebih baik kalau kemudian kita mampu lagi segera mengantisipasi munculnya infeksi varian Omicron. Misalnya dengan jumlah antibodi memadai, dan itu hanya bisa diperoleh ketika divaksinasi dengan booster," terang Wien.

"(Imunitas dibentuk) bisa dengan terinfeksi kembali, otomatis meningkatkan antibodi. Tapi kan kita nggak ingin ada dampak infeksi tersebut walaupun hanya gejala atau isolasi mandiri. Maka cara paling cepat adalah dengan vaksin booster," pungkasnya.



Simak Video "Dokter Paru Jelaskan Alasan 89% Gejala Omicron Batuk Kering"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)