Kamis, 27 Jan 2022 15:43 WIB

Inggris Mulai Anggap Omicron Seperti Flu Biasa, Mungkinkah RI Ikut-ikutan?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Enam kasus corona varian omricon ditemukan di Kota Bandung, Jawa Barat.

Wisatawan yang kunjungi Kota Bandung abaikan protokol kesehatan (prokes), Minggu (23/1/2022) sore. Omicron di Indonesia. (Foto: Wisma Putra)
Jakarta -

Merebaknya kasus varian Omicron di berbagai negara, termasuk Indonesia membuat masyarakat kembali khawatir. Di Indonesia sendiri, kasus Omicron sudah mencapai 1.998 orang berdasarkan laporan Kamis (27/01/2022).

Kementerian Kesehatan RI juga mengkonfirmasi ada 1.160 pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) yang terpapar Omicron, 606 lainnya transmisi lokal.

Meskipun begitu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut varian Omicron menimbulkan gejala yang lebih ringan dibandingkan varian Delta yang sempat memicu lonjakan kasus besar-besaran di berbagai negara termasuk Indonesia.

Lantas, apakah COVID-19 berpotensi menjadi endemik dan hilang dari kehidupan manusia? Epidemiolog yang juga Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Prof dr Mondastri Korib Sudaryo, MS., Dsc. mengungkapkan, COVID-19 kemungkinan memang tidak akan hilang dari kehidupan masyarakat dan mungkin akan berubah menjadi endemik. Setelah endemik, berubah menjadi penyakit 'biasa'.

"Pribadi, saya nggak begitu khawatir. Surutnya bagaimana, apakah hilang sama sekali? Epidemiologi beda-beda. Kayaknya nggak hilang sama sekali, Omicron akan menjadi sesuatu yang endemik. Setelah endemik, dia bisa menjadi biasa," ucapnya pada saat Webinar Kuliah Perspektif Epidemiologi Molekuler yang diadakan oleh Universitas Yarsi.

Prof Mondastri juga mengungkapkan bahwa pemikiran tersebut sudah dipercaya oleh negara lain seperti Inggris bahwa COVID-19 nantinya akan menjadi penyakit biasa seperti penyakit lain, misalnya flu. Namun, untuk di Indonesia sendiri masih perlu kajian lebih jauh.

"Inggris percaya duluan bahwa ini akan menjadi biasa saja. Kalau sakit ya periksakan saja, kemudian istirahat, sudah. Apakah kita akan mengacu pada Inggris? Perlu kajian lebih jauh. Kajiannya apa? Epidemiologi digabungkan dengan genetik mikrobiologi, digabungkan dengan big data. Itu harus sinkronisasi berbasis data-data sendiri tidak bisa data dari luar. Khas Indonesia untuk bicara tentang Indonesia," lanjutnya.

Selain itu, Prof Mondastri juga menjelaskan kalau varian Omicron kemungkinan tak akan membuat rumah sakit kolaps seperti varian Delta. Meskipun penyebarannya lima kali lebih cepat, namun varian Omicron tak menimbulkan gejala yang parah seperti varian Delta.

"Tidak berbeda dari kebanyakan orang bahwa Omicron itu lebih infeksius, kemudian tapi tidak parah (severe). Mungkin lima kali lebih cepat menular, tapi tidak severe. Kalau betul karena kebanyakan tidak menjadi manifestasi klinis berat, berarti tidak membebani rumah sakit, maka layanan tidak akan menjadi kolaps walau kasusnya banyak dia tidak akan kolaps. Tetap hanya melayani yang berat-berat sehingga yang ringan-ringan tidak harus ke rumah sakit," lanjutnya.



Simak Video "Komunitas Relawan di Shanghai Turun Tangan Bantu Warga yang Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)