Sabtu, 29 Jan 2022 12:07 WIB

Waspadai Gejala Broken Heart Syndrome, Mirip Serangan Jantung

Atilah Tia Abelta - detikHealth
Beautiful young Asian woman with broken heart on pink background Foto: Getty Images/iStockphoto/halfbottle
Jakarta -

Baru-baru ini kabar duka datang dari artis senior sekaligus politisi Nurul Arifin. Putri tercintanya, Maura Magnalia Madyaratri, tutup usia di umur yang masih muda 27 tahun.

Suami Nurul, Mayong Suryo, menyebut putrinya kemungkinan sedang mengalami stres dan kurang tidur sebelum meninggal dunia. Diketahui, Maura saat itu juga tengah mengurus wisudanya yang akan dilaksanakan bulan depan.

Dalam kasus ini, dokter spesialis jantung dari Siloam Hospital, dr Vito A Damay, SpJP(K), menuturkan bahwa penyakit jantung yang dipicu oleh stres atau rasa sedih yang mendalam memang bisa terjadi. Hal ini disebut dengan istilah 'broken heart syndrome' atau 'kardiomiopati takotsubo'.

"Jadi kalau tadi kita sudah sempet singgung mengenai broken heart syndrome ya, mengenai seorang yang stres mendadak lalu tiba-tiba jadi jantungnya mengalami lemah jantung atau kardiomiopati. Nah itu yang disebut broken heart syndrome," tuturnya dalam e-life pada Jumat (28/1/2022).

"Jadi orang yang depresi berlebihan, stres berat, yang tiba-tiba sedih sekali dan itu memang sebuah fenomena yang bisa terjadi cepat. Makanya karena itu kita harus waspada," sambungnya.

Sebenarnya belum diketahui pasti apa penyebab dari broken heart syndrome itu sendiri tanpa adanya pemeriksaan forensik atau autopsi.

Gejala broken heart syndrome

Dokter Vito menyampaikan, gejala dari broken heart syndrome ini mirip seperti gejala serangan jantung atau gagal jantung, yakni sakit dada dan sesak napas.

"Gejala yang dikeluhkan oleh orang dengan broken heart syndrome, sakit dada dan sesak napas. Nah dua hal ini justru juga sangat mirip atau gejala yang paling sering diderita oleh penyakit pembunuh nomor satu di dunia, gejala serangan jantung atau gagal jantung," jelas dokter Vito.

Upaya meminimalkan broken heart syndrome

Pemicu terjadinya broken heart syndrome adalah stres berlebihan dan rasa sedih yang mendalam. Untuk itu, langkah yang harus dilakukan adalah dengan mengatasi stres itu sendiri. Berikut beberapa cara yang disampaikan oleh dokter Vito untuk meminimalkan stres.

  • Luangkan waktu untuk beristirahat
  • Jika ada masalah bisa ceritakan ke teman dekat atau teman yang bisa dipercaya
  • Menyalurkan stres dengan berolahraga
  • Minta bantuan psikolog atau psikiater jika perlu
  • Jangan melampiaskan stres ke diri sendiri, seperti makan tidak teratur atau sesuka hati, merokok berlebihan, dan sebagainya.
  • Melakukan hobi atau kegiatan yang disukai
  • Luangkan waktu untuk berlibur atau healing

Apakah bisa disembuhkan?

Menurut dokter Vito, untungnya broken heart syndrome ini adalah penyakit yang jarang ditemui dan peluang kesembuhannya cukup tinggi. Untuk itu, penting mengenali keluhan yang muncul, seperti sesak napas, cepat lelah, dan sakit dada.

"Kalau kita segera obati, tangani, harusnya kinerja jantung kembali terjaga dan dengan seiringnya waktu masih bisa ada harapan untuk kembali normal," katanya.

Broken heart syndrome juga bukan penyakit yang terjadi secara berulang. penyakit ini terjadi sekali dan jarang ditemukan. Namun, ada kemungkinan bisa terjadi secara permanen juga.

Jika ditemukan tanda-tanda broken heart syndrome seperti sakit dada dan sesak napas, sebaiknya segera ke rumah sakit terdekat agar ditangani lebih lanjut untuk mengetahui diagnosis awal.



Simak Video "Patah Hati Picu Penyakit Jantung?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)