Selasa, 15 Feb 2022 15:19 WIB

Mengenal Limfoma Hodgkin: Gejala, Faktor, dan Pengobatan

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
World cancer day (February 4). colorful awareness ribbons; blue, red, green, pink and yellow color on wooden background for supporting people living and illness. Healthcare and medicine concept Limfoma Hodgkin (Foto: Getty Images/iStockphoto/Panuwat Dangsungnoen)
Jakarta -

Kanker merupakan salah satu penyakit yang sangat mematikan, bahkan diklaim sebagai salah satu masalah kesehatan tertinggi di dunia maupun di Indonesia. Kanker tak hanya menyerang kelompok tua atau lanjut usia (lansia), tetapi juga bisa menyerang kelompok muda. Salah satu jenis kanker yang rentan diidap oleh kelompok muda adalah limfoma hodgkin atau kanker kelenjar getah bening.

Berdasarkan data Cancer Statistics 2020, tercatat sebanyak 1.188 pasien baru yang terdiagnosis limfoma hodgkin di Indonesia. Sebagian pasien yang terdiagnosis kanker ini berusia 15-30 tahun dan usia 55 tahun ke atas. Namun, paling dominan diidap oleh rentang usia 15-30 tahun.

"Kelompok usia muda ini 15-30 tahun ini lebih dominan daripada usia yang lebih tua tadi. Nah, oleh karena itu, limfoma hodgkin ini sering disebut sebagai suatu kanker untuk penderita dengan usia muda. Ini memerlukan suatu penanganan yang bersifatnya khusus karena penderita dengan usianya muda itu tentu saja masih mempunyai suatu masa depan yang panjang dan penuh harapan," kata dr Johan Kurnianda, SpPD-KHOM, spesialis penyakit dalam -konsultan hematologi dan onkologi medik, Ketua Perhompedin Yogyakarta, dalam rangka peringatan Hari Kanker Sedunia 2022 media briefing, Selasa (15/2/2022).

Faktor Limfoma Hodgkin

Adapun sejumlah faktor risiko munculnya kanker limfoma hodgkin atau getah bening. Paling utama (dengan persentase 40 persen) adalah seseorang yang memiliki riwayat terinfeksi virus epstein-barr (EBV). Selain itu, ada lagi faktor lain, seperti:

1. Penurunan sistem imun

Orang dengan penyakit auto-imun atau mengkonsumsi obat penekan sistem imun, lebih berisiko terkena limfoma Hodgkin.

2. Riwayat keluarga

Seseorang yang memiliki keluarga dengan riwayat limfoma hodgkin, berisiko lebih tinggi untuk terkena kanker ini.

3. Jenis kelamin

Kanker limfoma hodgkin lebih rentan dialami oleh pria daripada wanita

4. Usia

Selain jenis kelamin, faktor usia juga mempengaruhi risiko terkena kanker limfoma hodgkin. Kanker ini umumnya rentan diidap oleh usia 15-30 tahun (kelompok muda) daripada usia lebih dari 55 tahun (kelompok tua).

Gejala Limfoma Hodgkin

Pada umumnya, kanker limfoma hodgkin kerap memicu gejala berupa pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak, atau pangkal paha. Pembesaran kelenjar ini pun juga disertai dengan gejala lainnya, seperti:

1. Gejala B (B symptoms)

  • Demam lebih dari 38 celsius tanpa sebab
  • Berkeringat di malam hari
  • Berat badan turun lebih dari 10 persen dalam waktu 6 bulan

2. Gejala lain

  • Kulit gatal-gatal (pruritus)
  • Kelelahan ekstrim (fatigue)
  • Intoleransi terhadap alkohol

"Adanya benjolan baik itu di leher, ketiak, maupun pangkal paha, itu kadang-kadang penderita limfoma hodgkin diikuti dengan gejala-gejala B atau B symptoms, meliputi demam yang lebih 38 derajat celsius dan bersifat naik turun, kemudian berkeringat di malam hari, kemudian berat badannya turun secara signifikan, yaitu lebih dari 10 persen dari berat badan semula dalam waktu singkat (6 bulan berturut-turut). Gejala yang lain itu adalah kulit terasa gatal-gatal, kemudian kelelahan kelelahan amat sangat, dan gejala-gejala intoleransi terhadap alkohol," tutur dr Johan

Diagnosis dan Pengobatan Limfoma Hodgkin

Pada dasarnya dokter akan melakukan diagnosis terlebih dahulu kepada pasien limfoma hodgkin sebelum memulai pengobatan, seperti:

1. Wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan lab darah

Dokter akan melakukan pengecekan B symptoms, gejala lain, dan benjolan yang ada di leher, ketiak, limpa, hati, dan selangkangan. Selain itu, pasien juga akan melewati pemeriksaan darah.

2. Biopsi dan pemeriksaan imunohistokimia

Setelah dilakukan pengecekan dan pemeriksaan darah, kemudian dilakukan pemeriksaan biopsi atau pengambilan jaringan. Sebab, cara terbaik untuk mendiagnosis limfoma hodgkin adalah dengan mengangkat satu atau lebih kelenjar getah bening dan diuji menggunakan proses imunohistokimia (IHK).

"Jadi misalnya ada suatu benjolan di leher dan di lengan atas pundak yang sering terjadi, itu kemudian diambil jaringan getah beningnya itu dengan suatu teknik biopsi. Dan kemudian dilakukan pemeriksaan standar untuk menentukan apakah ini benar limfoma atau tidak. Selain itu, juga digunakan uji khusus yaitu uji imunohistokimia," tutur dr Johan.

3. Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan stadium pengidap kanker limfoma hodgkin berdasarkan area penyebaran sel kanker dan respon pasien terhadap pengobatan.

Setelah dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan pada pasien limfoma hodgkin, dokter kemudian akan memulai pengobatan. Adapun pengobatannya sebagai berikut:

  • Kemoterapi (menggunakan regimen HPVD, seperti doxorubicin, vinblastine, dacarbazin, dan cyclophosphamide)
  • Targeted therapy (brentuximab vedotin)
  • Imunoterapi
  • Radioterapi
  • Stem cell transplant


Simak Video "Indonesia Didominasi Varian Omicron, Termasuk BA.4-BA.5"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/fds)