ADVERTISEMENT

Rabu, 16 Feb 2022 21:16 WIB

Masa Inkubasi COVID-19 Berapa Lama? Ini Panduan Resminya

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
SDN Jati 01 Pagi, Pulo Gadung, Jakarta Timur, gelar swab PCR massal yang diikuti para guru. Hal itu dilakukan guna cegah penyebaran Corona di lingkungan sekolah Masa inkubasi COVID-19 (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Masa inkubasi COVID-19 adalah interval waktu saat seseorang terinfeksi dan kemungkinan timbul gejala pada kasus terkonfirmasi. Hal ini adalah sebuah dasar pertimbangan pemerintah Indonesia dalam pembuatan strategi pemeriksaan, pelacakan, karantina, dan isolasi.

Waktu masa inkubasi dapat diukur melalui eksperimen biologis dan observasi fisiologis. Tentu saja kemampuan untuk menentukan masa inkubasi COVID-19 sangat penting lantaran berpengaruh pada pengendalian dan pencegahan dari penularan virus COVID-19. Oleh karena itu, penentuan waktu masa inkubasi COVID-19 bukanlah sesuatu yang mudah.

Selain itu, dilanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh para pekerja kesehatan dan masyarakat yang tinggal di fasilitas.

Lantas, Masa Inkubasi COVID-19 Berapa Lama?

Menurut Surat Edaran Menteri Kesehatan (Kemenkes RI) No HK.01.07/Menkes/4641/2021 terkait Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina, dan Isolasi dalam Rangka Percepatan Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Diseases 2019 (COVID-19), rerata masa inkubasi COVID-19 (waktu sejak seseorang tertular sampai munculnya gejala) adalah 5-6 hari walaupun pada sedikit kasus dapat mencapai 14 hari.

Seseorang terinfeksi bisa menjadi sumber penularan yang dimulai sekitar 2 hari sebelum orang tersebut menunjukkan gejala.

Sudah Tahu Masa Inkubasi COVID-19, Lalu Kapan Harus Tes COVID-19?

Juru bicara Satgas COVID-19, dr Reisa Broto Asmoro, pada siaran sehat secara daring, Senin (14/2/2022), juga menyarankan untuk melakukan tes COVID-19 kembali pada hari ke-5.

Hal ini disebabkan virus kemungkinan mengalami masa inkubasi COVID-19, sehingga lebih mudah dideteksi pada hari ke-5. Namun, apabila hari ke-5 hasilnya tetap negatif, tak perlu lagi untuk menjalani isolasi mandiri.

"Jadi kalau misalnya kita udah tes, trus hasilnya keluar yang positif ya otomatis harus isolasi mandiri. Tapi kalau misalnya ternyata kita punya gejala itu tapi hasilnya negatif ya, balik lagi, ini penyakit si COVID ini lagi di mana-mana dan orang yang kena disekitar kita lagi banyak banget. Jadi otomatis kita harus meng-karantina dulu," ucapnya

"Kemudian kita harus melakukan pemeriksaan lagi, swab lagi, yakni pada hari ke-5. Karena biasanya kalau COVID ya, kan ada masa inkubasi, jadi biasanya virus itu semakin mudah terdeteksi kalau jumlahnya semakin banyak di dalam tubuh. Jadi kalau udah hari ke-5, jumlah virusnya makin banyak artinya dia jauh lebih menular kepada orang lain, artinya kita harus melakukan pemeriksaan ulang. Kalau negatif, tidak perlu lagi isolasi mandiri," sambungnya lagi.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT