Dua Tahun Pandemi, Kok Ada yang Sama Sekali Belum Pernah Kena Corona?

ADVERTISEMENT

Dua Tahun Pandemi, Kok Ada yang Sama Sekali Belum Pernah Kena Corona?

Razdkanya Ramadhanty - detikHealth
Kamis, 10 Mar 2022 11:14 WIB
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19.
Foto: dok detikcom
Jakarta -

Sudah dua tahun sejak COVID-19 menyerang banyak negara di dunia. Gara-gara penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 tersebut, pandemi menimbulkan krisis di berbagai sektor.

Meski penyebaran virus Corona sangat masif, ternyata masih ada orang-orang yang beruntung tidak pernah terinfeksi virus tersebut, seakan-akan 'kebal' akan COVID-19.

Atas fenomena tersebut, muncul pertanyaan mengapa ada orang yang bisa tak tertular COVID-19 padahal virus tersebut terus berkembang? Dikutip dari Times of India, Kamis (10/3/2022), ternyata ada penjelasan ilmiah mengenai kondisi itu.

Kekebalan Tubuh Tinggi

Sebuah studi yang dilakukan oleh Imperial College London menemukan, ada beberapa orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Mereka memiliki tingkat sel T lebih tinggi dibandingkan beberapa orang lainnya.

Sel T merupakan sel memori dalam sistem kekebalan. Sel ini dikembangkan dari virus Corona flu biasa dan orang-orang yang memiliki sel T tinggi, akan kebal terhadap virus Corona yang menyebabkan COVID-19.

Hipotesis lainnya, sejumlah virus Corona banyak dikaitkan dengan flu biasa. Meski semua virus Corona berperilaku berbeda, ada karakteristik tertentu yang sama di antara berbagai virus tersebut.

Karena adanya kesamaan tersebut, kemungkinan sel-sel kekebalan tubuh dapat mengenalinya dan melawan virus sesegera mungkin setelah tubuh terpapar sehingga individu tidak terinfeksi COVID-19.

"Kami menemukan bahwa tingkat sel T yang tinggi pada individu, dapat melindungi dari infeksi COVID-19," jelas dr Rhia Kundu, penulis pertama studi tersebut.

Faktor Genetik

Tidak hanya kekebalan tubuh, ternyata faktor genetik juga berpengaruh terhadap individu yang 'kebal' terhadap COVID-19. Studi menemukan, ada hubungan antara genetika, sistem kekebalan tubuh, dan infeksi COVID-19.

Para peneliti menemukan, perilaku antigen leukosit manusia menentukan respons seseorang terhadap COVID-19.

Vaksin Masih Penting?

Setelah mengetahui dua faktor mengapa seseorang bisa 'kebal' terhadap COVID-19, muncul lagi pertanyaan apakah vaksin COVID-19 masih diperlukan?

Sejauh ini, vaksinasi merupakan satu-satunya pelindung paling efektif melawan virus Corona. Meski tidak terpapar virus Corona, diimbau untuk tetap mendapatkan vaksin primer dan booster guna menjaga imun tubuh, menurunkan risiko keparahan penyakit, dan risiko rawat inap.

Untuk menjelaskan kemungkinan di balik mengapa seseorang bisa 'kebal' terhadap COVID-19, para ahli mengatakan bahwa kekebalan reaktif silang (cross reactive immunity) dan vaksin memberi keuntungan bagi kelompok individu dengan sistem sel T tinggi.

"Kekebalan reaktif silang dari infeksi virus corona dan flu biasa, serta sudah divaksin, kemungkinan menjadi kontributor utama bagi karena orang-orang yang memiliki sifat 'kebal' COVID-19," ujar Lawrence Young, seorang profesor onkologi molekuler di Universitas Warwick.



Simak Video "Seputar Virus Covid-19 yang Diyakini Buatan Manusia"
[Gambas:Video 20detik]
(any/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT