ADVERTISEMENT

Jumat, 11 Mar 2022 14:00 WIB

Dua Tahun Pandemi Sama Sekali Belum Kena COVID? Pakar Jelaskan Kemungkinannya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Total jumlah pasien yang terkonfirmasi positif akibat virus corona pada hari ini menjadi 4.667.554 orang. DKI Jakarta jadi penyumbang kasus terbanyak. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Sejak pertama kali muncul di tahun 2019 lalu, masih banyak yang peneliti belum tahu mengenai penyakit yang menjadi pandemi global ini.

Meski penyebarannya sangat masif, ternyata masih ada orang-orang yang tidak pernah terinfeksi penyakit pernapasan ini. Pertanyaan pun mulai bermunculan, kok ada orang yang bisa tidak pernah tertular COVID-19?

"Memang tentu tidak semua orang akan jatuh sakit, baik COVID-19 atau yang lain. Ada tiga faktor yang mempengaruhinya," tutur Prof Tjandra Yoga Aditama Sp(P), dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) saat dihubungi detikcom, Jumat (11/3/2022).

Ketika seseorang dalam kondisi tubuh yang baik, maka ada kemungkinan ia bisa terhindar dari penularan meski kontak erat dengan pasien COVID. Selain itu tiga faktor yang dimaksud yakni:

  • Jumlah virus yang masuk ke tubuh
  • Virulensi / keganasan virusnya
  • Daya tahan tubuh seseorang

Bagaimana dengan golongan darah tertentu? Apakah hal tersebut menjadi salah satu faktor seseorang rentan atau tidak dalam penularan Corona?

"Golongan darah masih dalam penelitian, belum ada bukti yg pasti," tegas Prof Tjandra.

Terkait orang-orang yang belum pernah sama sekali tertular COVID-19, penelitian oleh Imperial College London menemukan bahwa orang dengan tingkat sel T yang lebih tinggi (sejenis sel dalam sistem kekebalan) dari virus corona flu biasa lebih kecil kemungkinannya untuk terinfeksi SARS-CoV-2.

Dalam studi tersebut, ada beberapa orang yang memiliki tingkat sel T yang lebih tinggi, sejenis sel memori dalam sistem kekebalan. Sel ini dikembangkan dari virus corona flu biasa lainnya dan orang-orang ini menunjukkan kekebalan terhadap virus corona saat ini yang menyebabkan Covid-19.

"Kami menemukan bahwa tingkat tinggi sel T yang sudah ada sebelumnya, yang dibuat oleh tubuh ketika terinfeksi virus corona manusia lainnya seperti flu biasa, dapat melindungi dari infeksi COVID-19," kata Dr. Rhia Kundu, penulis pertama studi dari Institut Jantung dan Paru Nasional Imperial.



Simak Video "Satgas Covid-19: Kita Perlu Berhati-hati dalam Memaknai Akhir Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT