Jumat, 11 Mar 2022 16:38 WIB

Masih Sesak Napas Pasca COVID-19? Waspada Tanda Kerusakan pada Paru-paru

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
A young doctor is standing and looking at the lungs image at the blurred hospital room background. The concept of medical service, diagnosis and treatment. Pakar mengungkap alasan sesak napas meski sudah sembuh dari COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Natali_Mis)
Jakarta -

Beberapa orang mengeluhkan gejala seperti batuk, kelelahan, hingga sesak napas, meski sudah sembuh dari COVID-19. Sebuah temuan baru mengungkapkan sesak napas yang berkepanjangan bisa jadi berbahaya.

Menurut temuan tersebut, sesak napas yang berkepanjangan itu termasuk satu komplikasi persisten yang berkaitan dengan kerusakan paru-paru. Sesak napas ini banyak dilaporkan selama fase akut infeksi COVID-19, tetapi gejala ini mungkin bisa bertahan lama.

Untuk mengetahuinya, peneliti mempelajari scan dan sampel cairan dari paru-paru pasien. Mereka melibatkan sebanyak 38 pasien yang tertular COVID-19 selama 3 hari 6 bulan, dan 29 relawan yang sehat.

Penelitian ini difokuskan untuk menentukan sel kekebalan mana yang aktif di paru-paru untuk mengetahui penyebab sesak napas pasca infeksi.

Dalam penelitian tersebut, para pasien menunjukkan hasil yang bervariasi. Tim mencatat bahwa semua pasien COVID-19 mengalami infeksi parah, sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Penyebab Sesak Napas yang Berkelanjutan

Temuan baru yang dipublikasikan di jurnal medis Immunity ini mengungkap penyebab dari sesak napas yang berkelanjutan. Ditemukan bahwa aktivitas sel kekebalan jangka panjang di saluran udara mungkin menjadi penyebab utama komplikasi COVID-19 ini.

"Studi kami menemukan bahwa berbulan-bulan setelah infeksi SARS-CoV-2, masih ada sel-sel kekebalan abnormal di saluran udara pasien dengan sesak napas yang terus-menerus," jelas penulis senior bersama studi tersebut, Dr James Harker, dari Institut Jantung dan Paru Nasional Imperial, dikutip dari Express UK, Jumat (11/3/2022).

"Kami juga mengidentifikasi tanda protein di paru-paru yang menunjukkan cedera berkelanjutan pada saluran udara," lanjutnya.

Para peneliti mempelajari pasien COVID-19 yang mengalami sesak napas berkelanjutan. Mereka mengamati sel-sel kekebalan yang berubah di saluran udara pasien.

Hasilnya menunjukkan bahwa tanda-tanda kerusakan paru-paru yang berlangsung itu mungkin akan membaik dari waktu ke waktu.

"Temuan ini menunjukkan bahwa sesak napas yang terus-menerus pada kelompok pasien COVID-19 kami disebabkan oleh kegagalan untuk mematikan respons imun, yang menyebabkan peradangan saluran napas dan cedera," kata penulis senior, Profesor Pallav Shah, dari Imperial National Heart & Lung Institute.

"Langkah selanjutnya dari penelitian kami adalah untuk melihat apakah ada perawatan yang dapat mengurangi aktivitas kekebalan tubuh, dan apakah mereka membantu mengurangi sesak napas terus-menerus yang dialami beberapa pasien," bebernya.

Meski begitu, para peneliti menegaskan temuan ini harus dipelajari lebih lanjut. Sebab, studi ini tidak bisa menentukan apakah ada pasien yang memiliki tanda-tanda sebelum infeksi terjadi.



Simak Video "Epidemiolog Tegaskan Sering Terinfeksi Covid-19 Tak Bikin Tubuh Kian Kebal"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)