Jumat, 18 Mar 2022 17:40 WIB

Pro-Kontra

Ada yang Lolos Jalan-jalan Meski Positif, Setuju Syarat Tes COVID Dihapus?

Rosiana Muliandari - detikHealth
Kemenkes akhirnya menurunkan harga tes PCR. Kemenkes menetapkan tarif tertinggi harga pemeriksaan PCR jadi Rp275 ribu di Jawa-Bali dan Rp300 ribu untuk luar Jawa dan Bali. Tes PCR (Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
Jakarta -

Pada tanggal 7 Maret lalu, pemerintah mengumumkan bahwa tes PCR dan antigen telah dihapus dari syarat perjalanan domestik dengan semua jenis moda transportasi. Peraturan baru ini dapat menjadi sebuah langkah awal Indonesia untuk 'berdamai' dengan COVID.

Meski begitu, peraturan baru ini memunculkan pro-kontra dalam masyarakat. Bahkan, Satgas COVID melaporkan ada warga yang nekat bepergian meskipun positif. Bagaimana tanggapan masyarakat mengenai peraturan baru ini?

Mat (20), seorang mahasiswa asal Jakarta, tidak menyetujui adanya perubahan peraturan ini. Alasan utamanya adalah karena, menurutnya, kondisi saat ini masih belum pasti dalam arti bahwa yang sudah vaksin saja masih berpotensi untuk positif COVID.

"Better banget kayaknya PCR atau antigen tetep ada supaya emang penumpang itu bisa dipastiin negatif," jelas Mat kepada detikcom, Jumat (18/3/2022).

Sependapat, Firli (21), seorang mahasiswa asal Bogor, juga tidak setuju dengan penghapusan tes PCR dan antigen ini. Ia berpendapat bahwa kedua tes tersebut dibutuhkan demi meminimalisir penyebaran.

"Soalnya kan, banyak ya, orang-orang OTG gitu taunya COVID, kasian orang-orang sekitar yang mungkin lagi gak fit malah bisa tertular dan potensi parahnya lebih gede," ceritanya.

Mahasiswa asal Bekasi, Putu (20), juga tidak menyetujui adanya perubahan ini. Meski begitu, ia tidak sepenuhnya menentang penghapusan tes ini dan lebih setuju jika aturan ini hanya berlaku pada warga yang sudah vaksin booster.

"Kalau kata gue, bisa dipake buat orang yang udah vaksin booster, sedangkan yang masih 1-2 kali cukup antigen aja," jelas Putu.

Di sisi lain, beberapa warga setuju dengan penghapusan tes ini. Ada yang menjawab bahwa memang sudah saatnya pelonggaran ini dilaksanakan sebagai sebuah proses adaptasi. Selain itu, ada juga yang pro, namun, mengingatkan agar masyarakat untuk tidak boleh bandel.

"Setuju aja sih sebenernya, dengan syarat kalau positif atau, at least, nggak enak badan, jangan bandel gitu!" Tegas Ulu, warga yang pro mengenai penghapusan ini.

Bagaimana dengan detikers? Apakah ada di sisi pro atau kontra mengenai perubahan peraturan ini? Yuk tuliskan pendapatmu di kolom komentar!



Simak Video "Simak! Syarat Terbaru Bagi Pelaku Perjalanan Dalam Negeri"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)