ADVERTISEMENT

Sabtu, 02 Apr 2022 11:31 WIB

Deretan 'Dosa' Terawan di Mata IDI, Pemicu Konflik Panjang Sejak 2013

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Anggota Komisi IX Ribka Tjiptaning dari Fraksi PDIP berbicara soal singkatan korona yakni komunitas rondo mempesona. Terawan Agus Putranto. (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta -

Terawan Agus Putranto diberhentikan permanen dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Buntut kasus panjang dari metode 'cuci otak' yang kerap dipromosikan Terawan meski belum memiliki bukti ilmiah.

IDI menilai hal ini tentu membahayakan keselamatan dan jiwa pasien. Juru bicara Pengurus Besar IDI untuk sosialisasi hasil Muktamar IDI ke-31 Beni Satria, merinci sejumlah pelanggaran berat Terawan:

Promosi Berlebihan

Beni menyebut Terawan kerap mempromosikan metode 'cuci otak' yang belum berbasis ilmiah di sejumlah media. Klaim yang diutarakan kala itu termasuk pengobatan yang diakui dunia. Selain ditujukan untuk pasien stroke, Terawan bahkan meyakini pengobatan tersebut bisa dilakukan untuk pengidap autisme.

Biaya Pengobatan Fantastis

"Bukan merupakan rahasia lagi di masyarakat mengenai tingginya biaya yang dipungut untuk tindakan brainwash 'cuci otak'. Pasien harus membayar dalam jumlah dana yang fantastis untuk ukuran prosedur yang sebenarnya hanya untuk diagnostik," terang Beni.

"Maka jelas sejawat yang melakukan brainwash tidak berada dalam fase penelitian, tetapi sudah pada fase penerapan di masyarakat. Hal ini sudah termasuk pelanggaran etik dalam dunia kedokteran dan farmasi," lanjutnya, sembari menekankan metode terkait juga tidak tercantum dalam jurnal ilmiah.

Tak hadir panggilan MKEK IDI

Total ada tujuh panggilan yang dilayangkan kepada dr Terawan dari MKEK IDI untuk mengkomunikasikan pengobatan 'cuci otak'. Namun, yang bersangkutan tidak menanggapi panggilan terkait.

"dr TAP (Terawan Agus Putranto) sudah empat kali memberikan jawaban tidak patut untuk tidak menghadiri undangan MKEK PB IDI ditengarai merintangi upaya penegakan etik profesi kedokteran (obstruction of ethics) dari lembaga MKEK yang seharusnya dihormati bersama," sambungnya.

Apakah Terawan masih bisa praktik? Simak di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Butet Kartaredjasa: Saya Pokoknya Percaya sama Terawan"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT