Kamis, 14 Apr 2022 04:00 WIB

Kabar Baik WHO! Kematian COVID Dunia Rekor Terendah Sejak 2 Tahun, Ada Tapinya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan COVID-19 masih berstatus pandemi meski faktanya kematian akibat virus SARS-CoV-2 ini mencetak rekor terendah sejak dua tahun.

Kematian COVID-19 dunia selama sepekan hingga 10 April 2022 tercatat sebanyak 22 ribu kasus.

"Level terendah sejak 30 Maret 2020," demikian ungkap WHO dalam laporan mingguannya, dikutip dari CNBC.

Seperti diketahui, WHO pertama kali menyatakan COVID-19 sebagai pandemi di 30 Januari 2020, sebulan setelah virus menyerang Wuhan, China.

Kabar Baik WHO

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan penurunan kematian akibat COVID-19 adalah kabar baik, tetapi beberapa negara masih mengalami lonjakan kasus.

Karenanya, komite WHO pekan ini setuju jika COVID-19 tetap berstatus darurat kesehatan masyarakat atau pandemi.

"Kita tidak boleh lengah, ini adalah saatnya untuk bekerja lebih keras lagi demi menyelamatkan nyawa," kata Tedros dalam jumpa pers di Jenewa.

"Khususnya, ini berarti berinvestasi agar alat COVID-19 terdistribusi secara merata, dan kita sekaligus memperkuat sistem kesehatan."

WHO telah meminta para pemimpin dunia untuk memastikan semua negara memvaksinasi 70 persen populasi mereka, setidaknya hingga pertengahan tahun. Indonesia juga tengah menggencarkan target tersebut yang diyakini bakal rampung Juli 2022 mendatang.

Namun, ada 75 negara yang baru memvaksinasi kurang dari 40 persen populasi mereka dan 21 negara memvaksinasi kurang dari 10 persen populasi.

Tren COVID-19 Dunia

Setiap wilayah melaporkan penurunan kasus dan kematian, menurut pembaruan epidemiologi terbaru WHO. Dunia mencatat 7,3 juta infeksi baru dalam sepekan terakhir per 10 April, turun 24 persen dari minggu sebelumnya dan level terendah sejak akhir Desember ketika varian Omicron yang sangat menular melanda dunia.

Namun, subvarian omicron BA.2 yang bahkan lebih menular telah memicu wabah baru di Eropa dan China dan kini semakin meningkat di AS. Sementara Eropa sebagian besar telah melaporkan gelombang BA.2, China memerangi wabah terburuknya sejak 2020. China telah menempatkan sebagian besar Shanghai, yang melibatkan sekitar 25 juta orang dilockdown.

Dr Didier Houssin, Ketua Komite Darurat Peraturan Kesehatan Internasional WHO mengatakan komite sedang mengerjakan kriteria, termasuk data epidemiologi dan tingkat bantuan internasional untuk mengendalikan virus dan menentukan kapan WHO dapat menyatakan darurat kesehatan global telah berakhir.

(naf/naf)