Divaksin atau Infeksi Alami? Ini Kelompok yang Punya Banyak Antibodi COVID

ADVERTISEMENT

Divaksin atau Infeksi Alami? Ini Kelompok yang Punya Banyak Antibodi COVID

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Kamis, 21 Apr 2022 07:35 WIB
Tes serologi merupakan pemeriksaan untuk mengetahui antibodi dalam darah. Tes ini diketahui dapat menjadi acuan untuk deteksi awal indikasi infeksi virus Corona
Foto ilustrasi: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan 99,2 persen warganya sudah memiliki antibodi COVID-19. Hasil ini diungkapkan oleh dari sero survei kerja sama Kementerian Kesehatan RI dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) di 21 kabupaten/kota Jawa Bali.

Salah satu peneliti dari FKM UI, Muhammad N Farid, mengatakan hampir semua penduduk di kabupaten kota tersebut sudah memiliki antibodi. Baik pada kelompok yang belum divaksinasi, yang sudah mendapat vaksinasi 1, 2, maupun booster.

"Jadi keliatan sekali pada Maret 2022 ini hampir semua penduduk di 21 kabupaten/kota ini, baik yang belum divaksinasi atau yang sudah divaksinasi, baik yang dosis 1, 2, maupun booster, level prevalensinya sudah cukup tinggi, sudah di atas 90 persen semua," jelas Farid dalam konferensi pers Kemenkes RI Rabu (20/4/2022).

Terbanyak pada Kelompok Belum Divaksinasi

Dari hasil survei, Farid mengatakan peningkatan antibodi yang cukup besar terlihat pada kelompok yang belum divaksinasi. Terlihat adanya peningkatan sebesar 16 persen. Ia meyakini bahwa ini terjadi karena infeksi alami.

"Karena ini pada kelompok yang belum divaksin, artinya peningkatan prevalensi ini disebabkan karena terjadinya infeksi," kata Farid.

"Jadi, infeksi yang terjadi pada kelompok yang belum divaksin ini ternyata cukup besar. Diindikasikan dengan peningkatan angka prevalensi yang tinggi, dari 77,2 persen (pada Desember 2022) ke 93,4 persen (pada Maret 2922)," lanjutnya.

Farid menjelaskan hasil tingkat antibodi ini selaras dengan laporan kasus COVID-19 yang sangat tinggi pada waktu tersebut. Bahkan, angka kasusnya melebihi puncak yang terjadi pada periode varian Delta sekitar bulan Juli lalu.

"Menunjukkan bahwa infeksi yang terjadi sekitar bulan Desember sampai Maret cukup meningkatkan proporsi penduduk yang memiliki antibodi," bebernya.

Bagaimana Pada Kelompok yang Sudah Divaksin?

Farid mengatakan pada kelompok yang sudah divaksinasi tentu memperlihatkan adanya peningkatan prevalensi antibodi. Namun, jumlahnya tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan kenaikan pada kelompok yang belum divaksinasi.

"Jadi, bisa kita katakan bahwa peningkatan 16 persen proporsi orang yang sudah memiliki antibodi dari Desember 2021 sampai Maret 2022 ini disebabkan terjadinya infeksi, karena kelompok yang kita bandingkan adalah sama-sama kelompok yang belum divaksinasi," jelasnya.



Simak Video "Booster Kedua untuk Lansia Direstui, Bagaimana dengan Masyarakat Umum?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT