Kanker Payudara Ancam Perempuan RI, Kenali 2 Cara Deteksi Dini

ADVERTISEMENT

Kanker Payudara Ancam Perempuan RI, Kenali 2 Cara Deteksi Dini

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Kamis, 21 Apr 2022 16:40 WIB
Asian woman checking her breast, self cancer examination concept
Dua cara mendeteksi dini kanker payudara. Foto: Getty Images/iStockphoto/Doucefleur
Jakarta -

Kanker payudara masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan wanita. Hingga saat ini kanker payudara menempati peringkat tertinggi kasus kanker di Indonesia. Menurut Data Globacon 2020 yang dikutip dari wesbsite resmi Kementerian Kesehatan RI , kanker payudara mencapai jumlah 68.858 kasus (16,6 persen) dari total 396.914 kasus kanker di Indonesia.

Dari data tersebut kanker payudara menempati urutan pertama dalam kasus kanker dengan jumlah kematian mencapai lebih dari 22 ribu jiwa. Namun risiko kematian akibat kanker payudara bisa berkurang dan dicegah dengan melakukan deteksi dini.

Dokter spesialis bedah, dr Rika Lesmana, SpB, dari RS Brawijaya Saharjo menyatakan tujuan dari deteksi dini adalah mengetahui keabnormalan pada payudara, biasanya mendeteksi adakah benjolan pada payudara.

"Untuk menyadari ada benjolan atau tidak, tujuannya untuk menemukan tanda-tanda keabnormalan pada payudara. Jadi, jika ada perubahan tiap bulan bisa disadari," jelas dr Rika.

Melakukan deteksi dini pada payudara terbagi dalam dua metode, yaitu yang dilakukan mandiri disebut SADARI dan dan yang dilakukan dengan bantuan ahli medis secara klinis disebut SADANIS.

SADARI

SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) merupakan metode deteksi dini yang bisa dilakukan mandiri tanpa perlu bantuan orang lain. Mengomentari hal ini, dr Rika berharap dengan malakukan deteksi dini sendiri, membuat para wanita menjadi yang pertama menemukan kejanggalan pada payudaranya.

"Ini yang tadi lebih detailnya mengenai pemeriksaan payudara sendiri, kenapa harus memeriksa payudara sendiri? Karena kita sendiri yang mengetahui kondisi payudaranya, sehingga kalau ada perubahan atau ada sesuatu yang tidak biasanya, diharapkan wanita itu sendiri yang pertama kali menemukannya karena kebetulan atau sudah nggak enak rasanya, sudah parah, sudah sakit, dan sebagainya," terang dr Rika.

"Dan kalau pada saat SADARI ini ketahuan kok kayaknya ada benjolan, ini benjolan apa bukan, sebenarnya itu tidak harus dikhawatirkan. Tujuannya sebenarnya untuk menemukan tanda-tanda lain atau keabnormalan pada payudara," lanjutnya.

Melakukan SADARI bisa dilakukan sebulan sekali setiap satu minggu setelah menstruasi, dan bagi wanita yang sudah menopause dapat melakukannya sebulan sekali dengan mengingat tanggal menstruasinya dulu atau setiap tanggal 1, tiap bulan sekali.

"Kapan harus melakukan SADARI? Simple aja sebulan sekali kurang lebih satu minggu setelah menstruasi," saran dr Rika.

"Atau kalau pada perempuan-perempuan yang sudah menopause, satu sebulan sekali dengan tanggal yang sama, boleh dihitung-hitung tanggal menstruasinya dulu kapan atau enggak setiap tanggal 1, sebulan sekali," sambungnya.

NEXT: Sadanis.



Simak Video "Benarkah Makanan Tertentu Bisa Picu Kanker Payudara?"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT