Catatan Eks Bos WHO soal Nyaris 100 Persen Warga Punya Antibodi COVID

ADVERTISEMENT

Catatan Eks Bos WHO soal Nyaris 100 Persen Warga Punya Antibodi COVID

Firdaus Anwar - detikHealth
Sabtu, 23 Apr 2022 11:10 WIB
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19.
Foto ilustrasi: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Para peneliti di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM) UI mengumumkan temuan hampir 100 persen warga RI di 21 kabupaten/kota punya antibodi COVID-19. Salah satu peneliti, Muhammad N Farid, menjelaskan antibodi ini diperoleh warga berkat program vaksinasi maupun infeksi alami.

"Jadi keliatan sekali pada Maret 2022 ini hampir semua penduduk di 21 kabupaten/kota ini, baik yang belum divaksinasi atau yang sudah divaksinasi, baik yang dosis 1, 2, maupun booster, level prevalensinya sudah cukup tinggi. Sudah di atas 90 persen semua," jelas Farid dalam konferensi pers Kemenkes RI pada Rabu (20/4/2022).

Terkait temuan tersebut, eks Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, Profesor Tjandra Yoga Aditama, memberi beberapa catatan. Hal yang pertama adalah survei diperluas agar bisa menggambarkan situasi di seluruh Indonesia.

"Akan baik tentunya kalau ada survei lain yang menggambarkan situasi Indonesia pada umumnya, atau setidaknya di sebagian cukup besar dari 500-an kabupaten di negara kita," kata Prof Tjandra dalam pesan yang diterima detikcom, Sabtu (23/4/2022).

Berikutnya adalah soal standar yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang memiliki antibodi. Prof Tjandra memberi contoh survei di Inggris yang menggunakan batas 179 ng/ml agar seseorang dinyatakan sebagai positif memiliki antibodi.

"Kalau kita melihat pengumuman pemerintah Inggris tentang hasil survei antibodi mereka pada 14 Maret 2022, maka disebutkan bahwa Inggris menggunakan batas 179 ng/ml untuk dinyatakan sebagai positif. Ini setara dengan nilai 100 BAU/ml standar unit WHO. Angka batas ini sudah dinaikkan dari batas sebelumnya yang hanya 42 ng/ml, maksudnya supaya memberi interpertasi yang lebih baik," ungkap Prof Tjandra.

"Usulannya adalah bahwa dalam hal ini akan baik kalau dijelaskan angka ini dalam kaitannya dengan survei kita di Indonesia yang menuliskan Level of detection (LOD): 0,40 U/ml," lanjutnya.

Terakhir Prof Tjandra juga menyarankan bila survei turut menjelaskan tingkat penurunan risiko infeksi. Sebagai contoh dengan tingkat antibodi yang ada, kira-kira berapa persen seseorang bisa terlindungi dari COVID-19.



Simak Video "Daerah Mana yang Punya Tingkat Antibodi Covid-19 Paling Tinggi?"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT