Virus Corona Diyakini Tak Bakal Benar-benar Hilang, Ini Alasannya

ADVERTISEMENT

Virus Corona Diyakini Tak Bakal Benar-benar Hilang, Ini Alasannya

Vidya Pinandhita - detikHealth
Senin, 25 Apr 2022 07:16 WIB
Vakinasi massal lanjutan atau dosis ketiga mulai gencar dilakukan. Salah satunya di Kota Bekasi, tepatnya di Stadion Patriot Candrabhaga.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pakar penyakit menular Amerika Serikat, Anthony Fauci, menyebut tidak ada kemungkinan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bisa benar-benar hilang. Sebab berbeda dengan proteksi vaksin penyakit lain seperti campak yang bertahan seumur hidup, kekebalan manusia terhadap COVID-19 memudar seiring waktu.

"Tidak ada kemungkinan kita akan menghilangkan SARS-CoV-2, sindrom pernapasan yang menyebabkan COVID-19," ujarnya dalam sesi tanya jawab dengan USA TODAY Network-Tennessee, dikutip dari Newsweek, Senin (25/4/2022).

"Kami hanya menghilangkan satu sejarah patogen virus pada manusia (yaitu) cacar. Dan kemudian ada yang telah kami eliminasi di daerah ini, yaitu polio dan campak," sambung Fauci.

Menurutnya, berbeda dengan perlindungan dari vaksin campak atau polio yang berlangsung seumur hidup, vaksin COVID-19 memberikan kekebalan yang bisa menurun seiring waktu.

"Ketika Anda mendapatkan vaksinasi campak, daya tahan perlindungan biasanya seumur hidup hal yang sama berlaku untuk polio," ujarnya lebih lanjut.

"Ketahanan perlindungan SARS-CoV-2 dari vaksinasi dan kekebalan dari paparan tidak terlalu lama," imbuh Fauci.

Pernyataan Fauci tersebut sejalan dengan prediksi yang baru-baru ini ia sampaikan dalam makalah yang diterbitkan dalam Journal of Infectious Diseases. Ia menunjukkan bahwa konsep klasik kekebalan kelompok yang melindungi terhadap virus mungkin tidak berfungsi untuk COVID.

Dalam penelitian tersebut Fauci juga menyinggung perluasan penggunaan intervensi kesehatan masyarakat yang tersedia saat ini untuk mencegah dan mengendalikan COVID-19 harus memungkinkan dimulainya kembali sebagian aktivitas sehari-hari. Hal itu sembari harus dibarengi pencegahan gangguan dari risiko kenaikan COVID-19.

Menurut pelacak COVID New York Times, kasus COVID-19 kembali meningkat di AS setelah penurunan tajam setelah memuncak pada Januari 2022. Peningkatan terjadi sebesar 49 persen sejak 7 April.

Pada 20 April, 66 persen populasi AS telah divaksinasi penuh, dengan 77 persen orang AS telah menerima setidaknya satu dosis vaksin COVID-19.



Simak Video "Booster Kedua untuk Lansia Direstui, Bagaimana dengan Masyarakat Umum?"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT