Senin, 25 Apr 2022 10:00 WIB

Kematian COVID-19-Pasien Bergejala Melonjak, Omicron di Shanghai Makin Ngeri?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Residents line up for a coronavirus test inside barricaded residential buildings locked down for monitoring following a COVID-19 case detected in the area Monday, March 28, 2022, in Beijing. China began its largest lockdown in two years Monday to conduct mass testing and control a growing outbreak in its largest city of Shanghai as questions are raised about the economic toll of the nations zero-COVID strategy. (AP Photo/Andy Wong) Shanghai lockdown ketat. (Foto: AP/Andy Wong)
Jakarta -

Meningkat lagi, Shanghai kini melaporkan 51 kasus baru kematian COVID-19 per Minggu (24/4/). Naik dari 39 hari sebelumnya, menurut keterangan resmi pemerintah setempat.

Dikutip dari Channel News Asia, Shanghai juga mencatat 16.983 kasus COVID-19 tanpa gejala, angkanya turun dari hari sebelumnya berada di 19.657 kasus.

Sayangnya, laporan kasus COVID-19 bergejala meningkat mencapai 2.472 kasus usai sebelumnya Sabtu (23/4) 'hanya' melaporkan 1.401 kasus. Pemerintah mengonfirmasi saat ini Shanghai menghadapi wabah COVID-19 dengan lonjakan tertinggi sejak pandemi merebak.

Pihak berwenang di Shanghai telah mendirikan pagar di luar bangunan tempat tinggal warga. Hal ini memicu amarah publik akibat lockdown ketat yang memaksa sebagian besar dari 25 juta orang di Shanghai tinggal di rumah.

Beredar di media sosial gambar para pekerja Shanghai dengan alat pelindung diri lengkap seperti hazmat putih, tengah menutup pintu masuk blok perubahan dan seluruh jalan dengan pagar hijau. Gambar tersebut viral dan menimbulkan pertanyaan bagaimana nasib warga di tengah lockdown.

"Ini sangat tidak menghormati hak orang-orang di dalam, menggunakan penghalang logam untuk mengurung mereka seperti hewan peliharaan," kata seorang pengguna di platform media sosial Weibo.

Satu video menunjukkan warga berteriak dari balkon pada pekerja yang mencoba memasang pagar. Para pekerja mengalah dan mengambilnya. Video lain menunjukkan orang-orang mencoba merobohkan pagar.

Banyak pagar didirikan di sekitar kompleks yang ditunjuk sebagai 'area tertutup'. Area tertutup diartikan dalam bangunan tersebut setidaknya satu orang dinyatakan positif COVID-19, karenanya mereka dilarang meninggalkan rumah.

Tidak jelas apa yang mendorong pihak berwenang untuk menggunakan pagar. Pemberitahuan tertanggal Sabtu dari satu otoritas lokal yang dibagikan secara online mengatakan pihaknya memberlakukan 'karantina keras' di beberapa daerah.



Simak Video "Shanghai Buka Sebagian Transportasi Umum di Tengah Pembatasan "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)